Trend Baru Pesta Mabuk Dengan Minum Air Rebusan Pembalut Wanita

Spread the love

Sharing is caring!

Jakarta (SL)-Tren baru para remaja mabuk dan nge-fly atau high dengan menenggak minuman air rebusan pembalut dan popok, Temuan ini membuat heboh di Jawa Tengah, hal ini mulai terkuak saat BNNP (Badan Narkotika Nasional Provinsi) Jawa Tengah, menangkap beberapa remaja sedang nge-fly, dan mereka mengaku bahwa sensasi nge-fly untuk tubuhnya tersebut diperoleh dari air rebusan pembalut wanita.

Kepala Bidang Pemberantasaan (Kabid Brantas) Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng AKBP Suprinanto mengatakan tren baru para remaja mabuk dan nge-fly atau high dengan air rebusan pembalut dan popok di Jawa Tengah mulai marak sejak beberapa bulan lalu.

ilustrasi Pembalut wanita yang murahan.

Biasanya hal ini dilakukan oleh anak jalanan “Pertama ketemu itu di Kudus, sekitar 3 bulan lalu, tertangkapnya sih cuma satu atau dua orang, namun ini mereka berkelompok. Kelompok ini bisa 6-10 orang kebanyakan anak tersebut merupakan anak jalanan dan masih dalam tahap coba-coba.” kata Suprinanto.

Kasus ini pun bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, kasus serupa pernah juga ditemukan di Karawang, Jawa Barat, dan juga Jogjakarta, Jawa Tengah.

Indra Dwi Purnomo, MPsi, Psikolog Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata yang turut menangani kasus ini menjelaskan bahwa rata-rata anak yang kedapatan mengonsumsi air rebusan pembalut ini baru berusia belasan, sekitar 14 tahunan.

Mereka juga menenggaknya bersama-sama, tidak sendirian. “Kalau dari sudut pandang kejiwaaan, mereka ini kan dalam usia perkembangan remaja. Mereka masih coba-coba,” kata Indra.

“Mereka berasumsi ingin merasakan efek enak, katanya mereka ‘biar kayak sabu, Pak’, padahal kan bukan. Sugesti mereka. Apalagi anak-anak seperti itu kan sangu-nya (uang jajan) kan kurang. Enggak tahu juga anak-anak itu bisa dapat ide dari mana,” tambahnya.

Menurut penjelasan Indra, remaja ini mencari gel yang ada di dalam pembalut. Hingga saat ini, pendampingan dan rehabilitasi remaja tersebut masih terus dilakukan.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang kesehatan dan napza, Sitti Hikmawatty menyebut kasus  perilaku remaja ini berawal dari coba-cobamencari alternatif zat untuk nge-fly dari satu bahanbahan lain agar bisa nge-fly. demi mendapatkan rasa tenang, ataupun gembira

Selain itu menurut Sitti ada faktor lain pemicu para remaja mencoba-coba hal seperti ini. Sitti menuturkan dorongan ekonomi hingga hasil pencarian internet membuat remaja ini makin ‘kreatif’ meramu racikan baru. Sayangnya, kreativitas itu berujung bahaya.

“Anak-anak ini banyak yang cerdas, karena dengan berbekal internet mereka bisa membuat beberapa varian baru, dari racikan coba-coba. Dan di sinilah tingkat resiko atau bahaya menjadi meningkat karena mereka hanya concern pada satu zat tertentu dalam sebuah bahan, meracik sendiri ramuan-ramuan yang diharapkan akan memberikan hasil seperti kebutuhan mereka, namun zat lainnya cenderung diabaikan sehingga reaksi sampingan yang terjadi bisa berakibat fatal,” ungkap Sitti.

KPAI saat ini berkoordinasi dengan banyak pihak untuk menangani fenomena ini. Meski demikian, Sitti mengingatkan keluarga memegang peran penting untuk mencegah fenomena heboh semacam ‘mabuk rebusan pembalut’ ini. “Deteksi dini atas perubahan perilaku anak-anak di sekitar kita, jika tidak ada alasan yang wajar, perlu menjadi bahan bagi para orang tua agar menjadi lebih waspada,” tutup Sitti.

Kementerian Kesehatan mengaku belum mendapatkan laporan langsung soal hebohnya remaja di Jawa Tengah yang mabuk dengan menggunakan rebusan pembalut dan popok. Perilaku tersebut sangat disayangkan oleh banyak pihak.

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, dra Engko Sosialine Magdalene, Apt, MBiomed mengatakan pihaknya akan mengkaji dan mempelajari efek dari rebusan pembalut tersebut bagi tubuh. “Saya nggak bisa bayangkan mekanisme efeknya ya, jadi saya mesti pelajari dulu Mbak,” ujarnya kepada detikHealth saat ditemui di kawasan BSD, Tangerang Selatan, Kamis (8/11/2018).

Engko tidak bisa menanggapi banyak hal mengenai hal ini karena belum ada data dan kajian mengenai rebusan pembalut yang dibuat untuk mabuk-mabukan. “Kita akan mempelajari kenapa, apa ada gel-gel isinya apa. Kita nggak bisa kalau tanpa data dukung yang lebih jelas. Nanti kita lihat komposisinya pembalut itu mengandung apa,” jelasnya.

Sementara Kepala Sub Direktorat Pendidikan BNN, Agus Sutanto, SE, MSi, berpendapat hal tersebut dipicu dari beredarnya kabar dari mulut ke mulut yang memberikan stigma bahwa pengaruh minum cairan bekas pembalut dapat memberikan sensasi nge-fly. “Iya itu karena halusinasi mereka saja akibat stigma yang diterima,” ujar Agus, di acara seminar Duta Anti Narkoba di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Serpong, Tangerang, Rabu (7/11/2018).

Menurut Agus jenis narkotika terbagi menjadi tiga, yaitu depresan, stimulan, dan halusinogen. Sensasi nge-fly yang diterima setelah meminum cairan bekas pembalut tersebut adalah efek dari salah satunya, yaitu halusinogen yang dapat mempengaruhi seseorang untuk berhalusinasi dengan berlebihan.

Sedangkan kandungan yang terdapat di dalam pembalut sendiri masih akan diteliti lebih lanjut, namun apabila hal ini masih terus menerus dikonsumsi tentu akan memberikan dampak negatif untuk tubuh. “Bahaya untuk tubuh yang ditimbulkan itu lambat laun dapat merusak sistem saraf otak karena hal yang seharusnya tidak dikonsumsi malah dikonsumsi,” tutup Agus. (nt/jun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *