Sumijo Bersama Anaknya Yang Gangguan Mental, Potret Kemiskinan Lampung Selatan Yang Butuh Uluran Tangan - Sinarlampung.com

Sumijo Bersama Anaknya Yang Gangguan Mental, Potret Kemiskinan Lampung Selatan Yang Butuh Uluran Tangan

Spread the love

Lampung Selatan (SL)-Warga Dusun 9, Desa Sukadamai, Natar, Lampung Selatan, Sumijo (41), menjadi salah satu potret warga miskin di Bumi Serapat Serasan, Minggu (27/5/2019). Dia tinggal bersama satu putranya yang mengalami penderita kelainan mental dan harus tetap bertahan hidup di bawah garis kemiskinan, yang butuh uluran tangan.

Gubuk Sumijo yang jauh dari kelayakan

Dia mencari nafkah dengan menjadi buruh tani serabutan.Sejak ditinggal sang istrinya wafat, beberapa tahun silam, kehidupannya kian berat, lantaran dirinya harus banting tulang untuk mencukupi kehidupannya dan merawat putranya.

Sumijo tinggal dirumah yang mirip gubuk berukuran lebih kurang 2X3 meter berdinding anyaman bambu itu geribik usang dan sudah rapuh, yang telah lebih puluhan tahun ia tempati, bahkan sebagian dinding geribik sudah tidak ada.

Tidak ada isi rumah yang mewah dilantai tanah, dengan ranjang bambu yang dilapisi kasur usang. Bahkan listrik pun dia masih menggunakan minyak tanah. Terdapat tape minicompo yang dihidupkan dengan aki. Gubuk yang mirip kandang ternak itupun nyaris roboh.

Mirisnya beras pra sejahtera (Rastra) atau Raskin selama dirinya hidup, belum pernah dia nikmati, apalagi jenis bantuan pemerintah lainnya, PKH, BLSM atau jenis bantuan lainnya tidak pernah dia dapatkan. “Orang miskin seperti aku ini tidak ada yang membutuhkan, saat ini memang masih punya tenaga, tetapi kalau sudah sakit-sakitan, aku takut tidak ada orang yang mau mengurus, apalagi anak saya. Namun, saya pasrahkan saja pada Tuhan, dan usaha semampu saya,” ujar Sumijo.

Tempat tidur Sumijo dan anaknya

Menurutnya, yang ia makan saat ini murni dari tetes keringatnya sendiri dari hasil upahannya buruh tani serabutan. Dimana penghasilannya tidak tetap, terkadang dirinya mendapat hanya cukup untuk makan. Itupun kalau ada kerjaan.

Saat hingar bingar pesta demokrasi yang lalu, Sumijo bahkan sama sekali tak pernah dilirik partai politik atau Caleg apalagi Capres yang sibuk mencari suara. Bagi dirinya, politik tidak ada pengaruh bagi kehidupannya, yang dia takutkan saat ini adalah usianya yang semakin tua dan jatuh sakit, tentunya dia tidak bisa mengais rezeki lagi dan ditakutkan tidak ada orang peduli untuk merawat dia dan anaknya.

Diakuinya bahwa yang dia harapkan dan selalu dipinta saat berdoa adalah selalu diberi kesehatan, ataupun apabila Tuhan akan mencabut nyawanya, janganlah diberi sakit terlebih dahulu agar tidak ada orang yang ikut susah dengan kondisinya. “Saya sudah terbiasa seperti ini, harapan untuk memperbaiki kehidupan entah bagaiamana. Jalani saja,” katanya dengan tatapan mata kosong. (red/jun)

Tinggalkan Balasan