Subdit Indagsi Polda Lampung Amankan 50 Ton Garam Konsumsi Berbahaya

Spread the love

Sharing is caring!

Bandarlampung (SL) – Subdit I Industri Perdagangan dan Investasi (Indagsi) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung mengamankan 50 ton garam berbahaya jika dikonsumsi warga.

Hasil uji lab, garam berbahaya karena kandungan yodium tidak sesuai dan belum diseterilisasi,” kata Waka Polda Lampung Brigjen Pol Angesta Romano Yoyol, Kamis (13/9).

Menurut Brigjen Pol angesta Romano Yoyol, dari pengakuan tersangka, Ariyanto (47), sudah lima tahun menjual garam tersebut.

Sisa garam asal Pulau Jawa yang disita dari gudang Ariyanto, warga Jl. Wala Abadi, Kampung Kroy, Kelurahan Waylaga, Kecamatan Sukabumi, Bandarlampung mencantumkan merk dagang, SNI, dan BPOM.

“Namun, semua itu tidak terdaftar dan belum ada izin edar,” katanya.

Brigjen Pol Angesta Romano Yoyo mengatakan puluhan ton garam ilegal hasil penyelidikan dan pengecekan gudang, Jumat (31/8), pukul 15.00 WIB. Garam dikemas di gudang tersebut.

Selain menahan pelaku, Ariyanto, petugas juga menyita 50 ton garam yang sudah dikemas dalam berbagai ukuran siap edar. Selain itu, petugas menyita mobil pikep, empat ponsel, uang tunai Rp30 juta, dan barang bukti lainnya.

Aryanto ditahan karena yang mendapatkan keuntungan dan bertanggungjawab terhadap produksi garam tersebut. Sedangkan pekerjanya hanya sebagai saksi.

Kejahatan pangan ini harus ditindak karena membahayakan jika sampai dikonsumsi masyarakat, ujar Brigjen Pol Angesta Romano Yoyo.

Ariyanto mengaku pengolahan dan pengemasan garam usaha miliknya tersebut sudah dilakukan kurang lebih sekitar lima hingga enam tahun dan pengemasannya ada berbagai macam ukuran.

Untuk ukuran 1 Kg, dia jual seharga Rp 3.000, 2 Kg Rp 6.000, dan ukuran 3 Kg Rp 9.000.

Sebulan, saya mengambil garam itu sebanyak 20 ton dan pengirimannya melalui jalur laut. Pemasarannya tergantung yang ambil garam dan paling banyak tersebar di Kota Bandarlampung,”ucapnya.

Saat ditanya bahwa usaha garam miliknya itu tidaklah terdaftar dari BPOM RI, Ariyanto mengakuinya namun bukan berarti bahwa dirinya tidak melakukan upaya untuk melakukan perijinannya tersebut.

Menurutnya, hingga saat ini ijin edarnya masih dalam tahap proses.

Garam yang saya olah dan kemas tidak berbahaya, hanya ijin edarnya yang belum selesai. Sudah tiga kali saya mengurus ijinnya, tapi sampai sekarang belum juga selesai,”ungkapnya.

Menurutnya, pengurusan ijin edar usaha garamnya tersebut, bukan hanya dari BPOM Lampung saja tapi juga dari BPOM RI di Jakarta sehingga prosedurnya lambat(rm/net)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *