Sidang Kasus Kematian Yogi Andika, JPU Tuntut Ajudan Bupati Lampung Utara 6,6 Tahun Penjara – Sinarlampung.com

Sidang Kasus Kematian Yogi Andika, JPU Tuntut Ajudan Bupati Lampung Utara 6,6 Tahun Penjara

Spread the love

Bandar Lampung (SL)-Ajudan Bupati Lampung Utara, Moulan Irwansyah Putra alias Bowo, dituntut 6 tahun 6 bulan penjara, dalam sidang tuntutan yang digelar di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu 21 Agustus 2019, Jaksa Penuntut Umum meyakini terdakwa Moulan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan kekerasan hingga menyebabkan kematian terhadap Yogi Andika, mantan sopir Pribadi Bupati Agung Ilmu Mangkunegara.

Sidang tuntutan

JPU Sabi’in SH menyatakan terdakwa¬† terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan yang diatur dalam pasal 170 ayat (2) ke-3 KUHP sesuai dengan dakwaan pertama.

Dalam persidangan terungkap fakta kematian Yogi Andika, yakni, korban Yogi Andika sempat menghilang dan kembali ke Lampung setelah dijanjikan pekerjaan oleh saksi Arnold. Kemudian Yogi Andika kembali ke Lampung ke rumah Arnold di Durian Payung. Saat di rumah, Arnold menyampaikan ke Purnomo jika korban sudah di rumah, namun purnomo berhalangan sehingga diarahkan ke Andre, anggota TNI.

Setelah itu datang tiga orang ke rumah Arnold, termasuk Moulan, Ajudan Bupati Lampung Utara dan Andre, Ajudan Bupati Lampung Utara. Kemudian terdakawa Moulan memukuli Yogi dan dibawa ke mobil, lalu setelah itu korban dirawat di RSUDAM dan kemudian meninggal. “Sehingga perbuatan kekerasan hingga menyebabkan meninggal dunia yang dilakukan terdakwa terpenuhi,” ujar Sabi’in saat membacakan tuntutan.

Karena itu, JPU meminta kepada Majelis Hakim untuk memutuskan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana menggunakan kekerasan terhadap orang sebagaimanna dakwaan pertama pasal 170 ayat (2) ke-3 KUHP. “Meminta Majelis Hakim memutuskan pidana penjara enam tahun enam bulan,” uacap JPU.

Semetara, lanjut JPU, hal yang meringankan yakni terdakwa belum pernah dihukum, terdakwa sopan dalam persidangan dan terdakwa tulang punggung keluarga. “Hal yang memberatkan terdakwa telah merugikan orang lain membuat luka dan mnyebabkan kematian,” katanya.

Atas tuntutan JPU, terdakwa Maoulan menyatakan akan mengajukan pledoi atau pembelaan pada persidangan selanjutnya. Sebelumnya, dalam materi dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum Sabi’in SH mengungkapkan, terdakwa Moulan Irwansyah Putra, pada Minggu 21 Mei 2017, sekira pukul 12.30 WIB, bertempat di Jl WR Monginsidi Bandar Lampung, dengan terang-terangan dan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, yang mengakibatkan maut.

Jaksa membeberkan kesaksian Arnold Darmawan yang pada awalnya mendapatkan kabar bahwa korban Yogi Andhika sedang dalam pencarian Polres Lampung Utara. Yogi dicari karena diduga telah melarikan uang milik Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegarasebesar Rp 25 juta.

Sedangkan Yogi kepada Arnold menyampaikan dirinya sudah tidak lagi bekerja sebagai sopir kendaraan pengawal pribadi bupati karena ada permasalahan dengan salah satu pengurus rumah tangga rumah dinas bupati. Yogi mengaku saat itu sedang berada di luar Lampung.

Arnold memancing Yogi agar mau pulang ke Lampung dengan menjanjikan pekerjaan. Pada 21 Mei 2017, sekitar pukul 10.00, Yogi tiba di Bandar Lampung dan berada di depan TK Kartini, Durian Panjang. Arnold kemudian menjemput Yogi dan membawa ke rumahnya di Jl WR Monginsidi.

Sesampai di rumah, dan Yogi sedang mandi, Arnold keluar rumah lalu menelepon anggota Polri Purnomo menyampaikan bahwa Yogi sudah ada di rumahnya. Purnomo berhalangan dan memberikan nomor telepon Andre, anggota TNI yang merupakan pengawal Bupati Lampung Utara.

Beberapa saat kemudian, ketika Arnold dan Yogi sedang berada di teras rumah, datang tiga orang, dua di antaranya adalah terdakwa Moulan Irwansyah Putra dan Andre. Melihat kedatanagn tiga orang tersebut, Yogi berlari masuk ke dalam rumah. Arnold hendak ikut masuk ke dalam rumah, namun Moulan melarangnya.

Sekitar 10 menit setelahnya, Arnold masuk lagi karena pemukulan yang dilakukan oleh terdakwa Moulan terhadap Yogi masih dilakukan. Arnold memegang tangan Moulan karena korban Yogi meminta ampun secara berulang-ulang. Tangan Yogi diikat ke belakang menggunakan tali seperti borgol plastik, lalu korban Yogi dengan wajah berlumuran darah diapit kanan-kiri dibawa keluar ke arah Gang Hamin oleh tiga orang, salah satunya Moulan.

Saat keluar rumah, Arnold sempat melihat Yogi masih dipukul punggungnya. Pada 21 Mei 2017 di salah satu rumah di Kayumanis, Way Halim, Arnold diberi uang Rp5 juta oleh Moulan. Sementara itu, keesokan harinya pada 22 Mei 2017 sekitar pukul 07.30, saksi Fitria Hartati saat masuk ke dalam rumahnya melihat Yogi terbaring di atas kasur dalam keadaan memar di seluruh bagian kepala dan badan serta muntah darah.

Fitria sempat membawa Yogi ke Puskesmas Way Kandis untuk berobat namun karena sudah parah lantas dibawa Rumah Sakit Advent. Di sini, Yogi ditolak karena harus visum terlebih dahulu. Demikian pula saat dibawa ke Rumah Sakit DKT, juga ditolak dengan alasan yang sama.

Yogi lalu dibawa ke RSUD Abdul Moeloek dan dirawat selama 3 hari dan belum dinyatakan sembuh Yogi minta pulang ke rumah. Beberapa waktu kemudian, setelah Lebaran 2017, Yogi pergi ke tempat kakak sepupunya, Novi Sari, selama seminggu. Saat di rumah Novi itulah, Yogi bercerita mengenai masalah yang dialaminya.

Pada April 2017, Yogi disuruh oleh adiknya Bupati Lampung Utara, yaitu Raden Syahril untuk mengantar uang sebesar Rp25 juta ke rumah ibunya di Ketapang. Yogi lalu mampir ke rumah dinas Bupati Lampung Utara untuk mandi. Ia meletakkan uang tersebut di dashboard mobil.

Selesai mandi, Yogi melihat mobil tersebut sudah terbuka pintunya dan uang Rp 25 juta yang diletakkan didashboard mobil sudah hilang. Karena ketakutan dan merasa tidak mengambil uang tersebut, Yogi pun pergi. Pada 14 Juli 2017 sekira jam 18.30. Yogi pulang ke rumah dalam kondisi kurang sehat dan mengeluh sakit kepada Fitria.

Karena tidak ada kendaraan, Fitria belum memeriksakan Yogi ke dokter. Keesokan harinya, 15 Juli 2017 sekira jam 07.30, dengan menggunakan ojek, Fitria memeriksakan Yogi ke Puskesmas Way Kandis dan dirujuk ke RS DKT, namun ditolak dengan alasan sudah penuh. Yogi kemudian dibawa ke RSUD Abdul Moelook dan dirawat di Ruang ICU, dan sekitar jam 18.00 Yogi meninggal dunia.

Jenazah Yogi sudah dimakamlan namun kemudian diotopsi ulang sesuai surat Kapolres Lampung Utara Nomor 8/21/IV/2018Satreskrim tertanggal 2 April 2018 perihal permohonan untuk dilakukan penggalian kubur dan otopsi mayat, dan surat Polda Lampung Bidang Dokkes Nomor R/VER/13/IV/2018/RSB tanggal 21 April 2018.

Kesimpulannya, penyebab kematian adalah pendarahan di kepala yang dapat dibuktikan dengan adanya resapan darah pada kulit kepala, jaringan otak kecil, dan jaringan tulang kepala. (red)

Tinggalkan Balasan