Prostitusi Berkedok Salon Di Langkapura, Langganan Lurah Hingga Pelajar - Sinarlampung.com

Prostitusi Berkedok Salon Di Langkapura, Langganan Lurah Hingga Pelajar

Spread the love

Bandar Lampung (SL)- Bisnis prostitusi terselubung di Bandar Lampunh sepertinya mulai menggiurkan. Bahkan ini mulai merambah ke komplek pemukiman yang berkedok salon. Penyusuran wartawan di salah satu salon yang menghuni sebuah ruko yang berada di tengah pemukiman warga di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Langkapura, Kecamatan Langkapura, yang menawarkan jasa esek-esek bagi pelanggan yang datang.

Sinarlampung mengantar salah seorang pelanggan, yang mampir ke Rizki Salon itu, Kamis (9/5). Saat tiba dan masuk di ruko itu, di bagian depan ruangan ada bangku tamu yang telah di sediakan. Pada dinding samping kanan ada lemari yang berisikan beragam peralatan salon.

Antara ruang depan dan ruang belakang hanya dibatasi dinding triplek saja, dan ada tangga ke lantai bawah.

Setia ada tamu tiba, pasti disambut dengan ramah. Bincang bincang akrab lalu bernego siasi masalah taripplus atau hanya urut repkeksi saja .

Ruangan tamu cukup luas, ada televisi untuk menonton dan kulkas yang berisikan minuman dingin. Juga ada tangga untuk turun ke tempat kamar yang hanya di sket memakai triplek dan ruangan itupun di sediakan kamar mandi, yang katanya untuk membilas usai selesai plus plus.

“Minum bang,” kata seorang wanita yang mengaku sebagai pengelola salon berambut panjang, berkulit putih, sembari menawarkan teh botol.

Di ruangan ini pengunjung yang datang diajak mengobrol dengan santai. Saat mengobrol itu lah pengelola salon tersebut menawarkan pelayanan yang bisa diberikan pada pengunjungnya. “Mau repkeksi urut apa semuanya bang ? Di sini bisa apa saja,” kata wanita yang minta dipanggil Bunda itu.

Bunda menjelaskan, bisnis yang baru saja berganti pemilik salon sekitar 7 bulan di jalannya itu juga menawarkan jasa pijat. Bukan hanya pijat saja, juga bisa making love. Untuk jasa pijat dia hanya mematok harga Rp100 ribu.

Jika ingin layanan lebih dari dua karyawannya cukup membayar Rp300 ribu saja. Pelayan yang pandai menawar dan pemijatnya setuju bisa saja cukup Rp200 ribu, siap eksekusi. “Ya sekali main lah bang. Anak-anak di sini kalau “main” tidak ada yang di bawah Rp 250 ribu. Itu gambarannya,” katanya.

Setelah berbincang-bincang, seperti ada kode khusus kemudian keluar dua orang wanita menggunakan pakain seksi tank top. Satu berambut panjang berbadan padat. Satu lagi juga berambut panjang ikal dengan body lebih berisi. Kedua-duanya berkulit putih.

Keduanya tak segan menawarkan untuk langsung ke kamar yang sudah disediakan untuk memberikan layanan. “Potong rambut mana saja bisa bang. Yang lebih juga bisa ayolah ke atas,” ajak salah seorang karyawan sebut saja bunga (24) dengan nada manja.

Disetiap kamarnya sudah disiapkan satu kasur busa di atas lantai keramik bewarna putih. disediakan tempat tidur springbed Juga alat kontrasepsi. Di pojok belakang bangunan itu juga ada kamar mandi untuk para pelanggan.

Namun anehnya tidak ada satupun meja kaca dan peralatan lainnya di lantai atas itu untuk aktivitas memotong rambut. Bunga kemudian mengajak tamunya masuk ke salah satu kamar ukuran kecil di pojok dinding ruangan kamar tersebut.

Di kamar itu kemudian bunga mulai bercerita tentang usaha yang saat ini tengah digelutinya. “Kalau main bang hanya Rp300 ribu saja. Untuk tambahan beli pakaian anak anak lebaran ini bang,” kata bunga.

Bunga menceritakan kebanyakan yang datang itu usia 40 – 50 tahunan atau Om-Om. Namun ada juga usia muda sekitar 30 tahunan. Yang mengejutkan dari pengakuan bunga bahkan ada anak usia sekolah yang ikut menjadi pelanggan di sana.

Bunga mengakui kalau usaha mereka di tengah komplek pemukiman penduduk. Namun menurut bunga selama usaha itu beroperasi, tidak pernah dirazia. Selain itu juga warga sekitar tidak mempedulikan keberadaan mereka.

“Ya orang komplek ini tahu kalau tempat ini untuk gituan. Tapi mereka cuek saja. Kalau di sini sifat orangnya elo elo gue gue, malah lurah Kemiling pun sering kesini kadang minta replesi dan kerokan. ya kalo pak lurah tau disini tempat apa tapi asal pinter pinter kita aja si. Pelajar juga banyak jadi langganan,” katanya.

Saat ditanya tentang edaran pemerintah wali kota bandar Lampung, Herman HN tentang himbauan agar selama bulan suci ramadhan agar tidak beroperasi praktek usahanya, bunga malah tidak memperdulikan masalah edaran tersebut, “Kalo di sini sudah biasa yang seperti itu bang biarin aja. Pinter pinter kita itu mas,” ujarnya. (afta)

Tinggalkan Balasan