Polda Sumut Tangkap Lima Pembunuh Dua Wartawan, Para Pelaku Terima Bayaran PT SAB/KSU Amelia? - Sinarlampung.com

Polda Sumut Tangkap Lima Pembunuh Dua Wartawan, Para Pelaku Terima Bayaran PT SAB/KSU Amelia?

Spread the love

Medan (SL)-Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) mengungkap dengan cepat kasus pembunuhan berencana terhadap wartawan Martua Parasian Siregar dan temannya Maraden Sianipar diareal kebun sawit PT SAB / KSU Amelia, Dusun VI Sei Siali, Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir Kabupaten Labuhanbatu, yang terjadi Rabu (30/10/2019) lalu.

“Sampai saat ini, kita sudah meringkus lima pelaku dari tempat yang berbeda, sebelumnya Polres Labuhanbatu telah meringkus VS dan SH Kecamatan Panai Hilir dan selanjutnya DS di Desa Janji, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbahas. Sedangkan JH dirumah kos-kosan di Jalan Jamin Ginting, Kabanjahe dan terakhir adalah HP dari kompleks Perumahan CBD, Kelurahan Suka Damai, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan,” kata Andi Rian, mendampingi Kapolda Sumut Irjen Pol Drs. Agus, jumpa pers, Jumat (8/11/2019) pagi.

Jumpa pers dihadiri Waka Polda Sumut, Brigjen. Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto, Direktur Reskrimum Polda Sumatera Utara, Kombes Andi Rian didampingi Kasubdit III/ Jatanras, AKBP Maringan Simanjuntak dan Kapolres Labuhanbatu AKBP Agus Darojat.

Dijelaskannya, selain lima pelaku yang sudah diringkus, ada tiga pelaku lainnya yang sedang kita kejar, diantaranya JS, (20), warga Kabupaten Labuhanbatu,RI (20) warga Kasindir Tiga Balata, Kabupaten Simalungun, HS (38) warga Perdagangan sekuriti PT KSU Amelia.

Dari hasil pemeriksaan, lanjut nya. Diketahui semua pelaku dibayar dengan jumlah bayaran yang berbeda-beda, JS dapat Rp 7 juta, DS dapat Rp 17 juta, HS dapat Rp 9 juta dan JHK mendapatkan Rp 7 juta. Penyidik masih mendalami bagaimana ceritanya dan siapa yang memerintahkan, sehingga uang pembayaran yang diterima para pelaku dikirimkan dari rekening WT bendahara PT Amalia sebesar Rp40.000.000,- (empat puluh juta rupiah) usai melakukan pembunuhan terhadap kedua korban.

Dari hasil pemeriksaan para tersangka, pihak Perusahaan PT memerintahkan agar para pelaku menjaga perkebunan kelapa sawit dari para penggarap, jika ada yang datang diusir dan jika ada yang melawan dibunuh, terutama kedua korban (Maraden Sianipar dan Pak Sanjay).

Sedangkan barang bukti yang ikut diamankan,1 unit Honda Revo warna hitam liris biru BK 5158 VAB, 1 (satu) Unit sepeda motor Merk Honda Supra X dengan nomor polisi BK 2220 IO,1 Potong kaos dalam berlumuran darah,1 Potong kaos warna hitam,1 (satu) buah sepeda warna coklat sebelah kiri,5 Unit Handphone yang digunakan tersangka.

Motif pelaku melakukan pembunuhan yaitu dikarenakan dua orang korban diduga melakukan penggarapan lahan yang merupakan milik perkebunan PT KSU Amelia. Lalu, HP yang disebut merupakan menantu dari pemilik perkebunan berkoordinasi dengan pelaku lainnya.

Atas perbuatannya, para pelaku dipersangkakan melanggar Pasal 340 Jo Pasal 338 dan atau Pasal 55, 56 KUHPidana. “Kita persangkakan mereka dengan pasal itu, dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup dan atau selama-lamanya 20 tahun,” tegasnya.

Disisi lain, Pimpinan Redaksi PostKeadilan, K.I Simaremare juga sesalkan pihak Dinas Kehutanan Propinsi Sumut. Menurut Simare panggilan akrab K.I Simaremare, bahwa dirinya telah menyampaikan tentang pemberitaan wartawan yang kini menjadi korban.

“Dalam hal kasus ini, kami sesalkan lambat nya kinerja pihak Dinas Kehutanan Propinsi SUMUT. Sekitar sebulan sebelum insiden, kami telah menyampaikan wartanya kepada Dinas. Waktu itu diterima Danpolhut bermarga Sibuea,” ungkap Simare.

Dimana dalam pemberitaan disebut, Dinas Kehutanan Propinsi SUMUT beserta Tim terpadu lainnya ‘memberangus tempat-tempat serta mengamankan alat-alat operasional yang diduga milik PT SAB. “Bahkan pihak Dinas telah beri peringatan dan menyegel. Tapi pihak PT tetap ‘ngeyel, hingga berita nya pun dinaikkan almarhum. Itu kami Laporkan berita nya ke Dinas. Mirisnya, kita sama-sama tau beritanya,” beber Simare.

Kepergian ke dua (alm) wartawan tersebut diharapkan tidak menjadi sia-sia. “Dinas saya kira harus ikut serta bertanggung jawab atas kepergian mereka (wartawan yang menjadi korban). Saya harap Dinas Kehutanan paham apa yang harus mereka lakukan,” tukasnya. (red)

Tinggalkan Balasan