Polda Lampung Mulai Proses Kasus Dugaan Penipuan Rp420 Juta Melibatkan Oknum Caleg PKB Tanggamus - Sinarlampung.com

Polda Lampung Mulai Proses Kasus Dugaan Penipuan Rp420 Juta Melibatkan Oknum Caleg PKB Tanggamus

Spread the love

Bandar Lampung (SL)-Polda Lampung mulai proses kasus dugaan penipuan penggelapan yang melibatkan Caleg PKB Dapil 1 Kabupaten Tanggamus Nuzul Irsan. Kasus itu dilaporkan pada 25 Febuari 2019, oleh pelapor atas nama Syahbirin (54) warga Tanjung Harapan Kecamatan Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampung Utara. Penyidik meminta keterangan pelapor, Rabu (13/3/2019)

Korban Syahbirin (54), melaporkan Nuzul Irsan ke Polda Lampung pada tanggal 25 Febuari 2019, dengan nomor laporan LP/ B- 269/ II/ 2019/ SPKT atas dugaan penipuan dan penggelapan uang senilai 420juta pada 30 Desember 2018. Kasus itu terjadi saat Nuzul mencalonkan diri pada pilkada Tanggamus sebagai Wakil Bupati.  Terlapor meminjam uang Rp420 juta, dan janji akan dikembalikan setelah pilkada.

“Saya mengenal Nuzul Irsan melalui temannya saat Nuzul maju mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Kabupaten Tanggamus pada tahun 2018. Uang senilai Rp420 juta saya berikan di rumah Nuzul bersama dua orang saksi yang salah satunya merupakan teman dari Nuzul,” kata Syabirin

Namun, kata korban, kenyataannya hingga kini tidak ada kejelasan atas janji tersebut. “Saya berharap Polda Lampung dapat segera menindak lanjuti dan memproses laporan ini, karna uang itu bukan uang sedikit dan atas peristiwa ini saya merasa di rugikan”, tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan dari terlapor Caleg PKB Nuzul Irsan. Dihubungi via phone sedang tidak aktif.

Kasus Penganiayaan Kades

Sebelumnya, Mantan Calon Wakil Bupati Tanggamus, Nuzul Irsan, juga terlibat kasus penganiayaan yang di Laporkan di Polda Lampung. Bahkan Nuzul Irsan tidak memenuhi panggilan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Lampung. Jumat, 3 Agustus 2018, penyidik Ditreskrimum Polda Lampung telah dua kali mengirimkan surat panggilan pemeriksaan terhadap Nuzul.

Pemanggilan itu terkait dengan dugaan Nuzul melakukan penganiayaan terhadap Sunardi, Kepala Desa (Kades) Tegalbinangun, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus. Namun, hingga waktu yang telah ditentukan (Kamis, 2 Agustus 2018), Nuzul tak juga memenuhi panggilan penyidik. Surat panggilan segera dikirimkan kembali oleh penyidik. Bila sampai panggilan ketiga Nuzul tidak juga hadir, petugas dimungkinkan melakukan upaya penjemputan paksa terhadap terlapor Nuzul.

Sebelumnya, Direktur Ditreskrimum Polda Lampung, Kombes Pol. Bobby Marpaung mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. “Kalau keterangan dari kedua belah pihak serta saksi-saksi sudah lengkap, nanti kami gelar perkaranya,” kata Bobby.

Diketahui, kasus dugaan penganiayaan terhadap Kepala Pekon Tegal Binangun, SN, dipicu lantaran persoalan pelepasan benner pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Tanggamus. Penganiayaan terjadi di Pekon Rajabasa, Bandar Negeri Semaung,  pada Minggu (15/4/2018) lalu.

Gratifikasi APBD Tanggamus 2016
Nama Nurul Irzan sempat disebut dalam Sidang lanjutkan kasus dugaan gratifikasi pengesahan APBD Tanggamus 2016 dengan tersangka bupati Tanggamus non aktif Bambang Kurniawan Rabu (3/5/2017). Salah satu saksi yang dihadirkan adalah anggota DPRD Tanggamus Komisi IV fraksi PDIP, Buyung.

Dalam kesaksiannya, Buyung mengatakan bahwa Nuzul Irsan mendanai para anggota dewan yang melaporkan Bambang Kurniawan ke KPK. “Saya pernah kumpul dengan Nuzul Irsan dan diberi uang untuk ke Jakarta. Meski diberi Rp5 juta, namun uang itu tidak saya pegang,” kata Buyung.

Sejumlah anggota dewan pernah berkumpul di salah satu rumah makan di Bandar Lampung. “Saya awalnya tidak tahu apa yang akan dibahas. Saat itu ada saya, Bahrain, Irwandi, Agus Munandar, Nursabana, Heri Hermawan, Ahmad Farid, dan Nuzul Irsan,” ujar Buyung.

Di tempat itu, lanjut dia, Nuzul memberikan uang Rp5 juta kepada anggota dewan yang hadir untuk ongkos melaporkan Bambang ke KPK. Karena merasa tidak menerima uang baik, Buyung tidak berangkat ke KPK. “Uang Rp5 juta untuk ongkos saya dari Nuzul, dipegang Bahrain,” katanya. (jun)

Tinggalkan Balasan