Penangkaran Murai Batu, Agrobisnis Prospektif yang Membawa Risdiyanto ke Titik ‘From Zero to Hero’ – Sinarlampung.com

Penangkaran Murai Batu, Agrobisnis Prospektif yang Membawa Risdiyanto ke Titik ‘From Zero to Hero’

Spread the love

Lampung Utara (SL) – Berawal dari kegelisahan seorang ayah terhadap kondisi putri kesayangan yang mengalami goncangan kejiwaan, Risdiyanto, pemilik penangkaran burung kicau Murai Batu yang dikenal dengan nama ‘Mapan Bird Fram’, mampu menjadi salah satu distributor burung kicau Murai Batu papan atas di Provinsi Lampung.

Bahkan, burung Murai Batu hasil penangkaran yang terletak di Desa Kota Negara Kecamatan Sungkai Utara Kabupaten Lampung Utara ini mampu menembus pasaran resmi burung kicau yang ada di berbagai daerah di Indonesia hingga terjual ke Singapura dan beberapa negara lainnya.

Beberapa Murai Batu Yang Ada di Penangkaran “Mapan Bird Fram” Milik Risdiyanto

“Sebelum memutuskan menjadi seorang penangkar burung Murai Batu, saya berprofesi sebagai pekebun. Dalam berusaha, saya memiliki prinsip yang terbentuk sejak menempuh pendidikan tinggi, secara penuh totalitas. Keseriusan saya dalam menekuni dunia perkebunan hingga meraih satu titik dimana setiap orang mengimpikan hasil dari apa yang dikerjakannya, justru berbanding terbalik dengan kondisi kejiwaan putri pertama saya,” tutur Risdiyanto, owner penangkaran Mapan Bird Farm, saat diwawancarai, Selasa malam (21/06/2018), di kediamannya.

Mendapati kondisi kejiwaan putri kesayangannya, Risdiyanto berusaha mencari langkah terbaik guna kesembuhannya.

“Saya berusaha semaksimal mungkin hingga menghabiskan segala apa yang saya miliki ketika itu. Hasil diagnosa dokter dari berbagai tempat yang saya kunjungi, faktor X yang mempengaruhi kejiwaan putri saya diakibatkan kurangnya perhatian dan kasih sayang saya sebagai seorang ayah. Akhirnya, saya memutuskan untuk lebih banyak meluangkan waktu dan berada di sisi anak saya guna memenuhi kebutuhan ruhaninya berupa kasih sayang seorang ayah,” papar Risdiyanto.

Hal itulah yang melatarbelakanginya untuk menekuni usaha yang semula dari seorang pekebun menjadi penangkar burung kicau Murai Batu.

“Suatu saat saya berpikir, usaha apa yang harus saya lakukan agar lebih banyak meluangkan waktu untuk mencurahkan kasih sayang demi kesembuhan kejiwaan putri saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk menangkar burung kicau Murai Batu di rumah saya,” paparnya.

Dengan pengetahuan yang didapat secara otodidak, medio tahun 2007, Risdiyanto mencoba menangkar burung Murai Batu dengan sepasang indukan berkualitas. Walhasil saat ini, dipenangkarannya tersebut telah memiliki sejumlah 32 pasang indukan produktif.

“Dari 32 pasang indukan, penangkaran saya mampu menghasilkan 3 sampai 5 ekor anakan Murai Batu dari masing-masing pasang indukan dengan masa reproduksi 2 bulan sekali. Dalam satu bulan apabila tidak ada gangguan, sebanyak tiga puluh sampai 35 ekor anakan dapat saya hasilkan,” urainya.

Diakui pemilik penangkaran Mapan Bird Farm ini lebih lanjut, omset bulanan yang dihasilkannya berkisar Rp.80 juta hingga ratusan juta rupiah.

Sistem pemasaran yang dilakukan Risdiyanto untuk menawarkan burung kicau Murai Batu pada penghobiis, yakni melalui komunitas-komunitas kicau mania dan memanfaatkan berbagai jejaring media on-line.

“Kini, penangkaran burung Murai Batu saya menerima pesanan yang tidak saya duga sebelumnya. Efektifitas pemasaran melalui jejaring media online mampu merambah penghobi burung kicau mania hingga ke Singapura,” jelasnya.

Dalam mengelola bisnisnya itu, papar Risdiyanto, kualitas burung yang dihasilkan menjadi point yang sangat diutamakan guna memberi lisensi serta memberikan yang terbaik pada konsumennya.

“Saat ini saya menerima pembelian secara langsung. Artinya, untuk menjaga kredibilitas penangkaran serta menjaga hubungan bagi sesama hobiis burung kicau mania, saya memfokuskan penjualan dengan interaksi secara langsung,” jelasnya.

Bagi konsumen yang berasal dari luar daerah, seperti dari Jakarta, Bandung, dan lain sebagainya, penangkaran Mapan Bird Farm menanggung seluruh akomodasi yang harus dikeluarkan konsumen untuk datang ke tempatnya secara langsung.

“Saya akan memberikan akomodasi atau dengan kata lain mengganti biaya transportasi yang dikeluarkan konsumen untuk datang langsung ke penangkaran saya.

Selain itu, saya juga memiliki penginapan khusus yang dapat digunakan secara gratis bagi konsumen yang ingin meluangkan waktu menikmati kicauan Murai Batu di penangkaran saya ini,” pungkas Risdiyanto. (ardi)

Tinggalkan Balasan