Pelecehan Terhadap Kaum Perempuan Merajalela, UU Harus Segera Disahkan - Sinar Lampung

Pelecehan Terhadap Kaum Perempuan Merajalela, UU Harus Segera Disahkan

Spread the love

Sharing is caring!

Oleh : Siti Wuriyan, S.Sos, M.kom (Co Founder Perempuan Saburai)

Perempuan dimanapun berada, berpakaian apapun, baik dari kalangan anak-anak maupun dewasa, rawan mengalami pelecehan seksual. Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk kekerasan seksual dan merujuk pada tindakan bernuansa seksual yang disampaikan melalui kontak fisik maupun non-fisik, yang menyasar pada bagian tubuh seksual atau seksualitas seseorang.

Tindakan pelecehan dimaksud berupa siulan, main mata, komentar atau ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi-materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual, sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin hingga menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

Hal tersebut bisa menjadi sebuah penderitaan bagi kaum perempuan di segala sektor, baik fisik, seksual, budaya, sosial, ekonomi, budaya dan politik. Pelecehan seksual bisa terjadi yang melakukan adalah orang-orang terdekat di sekeliling kita, baik orang yang sudah lama dikenal ataupun orang yang baru dikenal. Pelakunya bisa siapa saja tidak memandang status sosial di masyarakat, bahkan bisa jadi adalah orang yang mempunyai status sosial tinggi di masyarakat.

Perempuan juga adalah manusia yang berhak atas kemerdekaan sesuai Undang-Undang Dasar 45 Pasal 28 huruf g, bahwa setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.

Kemudian, pada pasal selanjutnya menyebutkan setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. Meski perempuan juga seorang manusia, tetapi banyak tindakan perlakuan yang tidak memanusiakan dirinya. Bahkan dari segala penjuru ancaman kekerasan mengarah kepada kaum perempuan yang mengancam keamanan dirinya.

Kehidupan perempuan akan terus dihantui dengan rasa takut ditambah semakin banyak kasus pelecehan dan perlakuan tidak adil yang selalu banyak menimpa kaum perempuan. Ironisnya ketika perempuan menyuarakan hal tersebut, banyak orang yang berargumen bahwa hal tersebut wajar terjadi. Karena masih banyak manusia yang belum tersadarkan bahwa kasus tersebut adalah masalah yang serius, bahwa perempuan adalah korban yang harus segera ditangani dan mendapatkan perlindungan dari segala tindakan yang mengancamnya.

Berbicara data kasus kekerasan terhadap perempuan nyaris setiap tahun mengalami grafik peningkatan. Berdasarkan data, dari catatan komnas perempuan, diketahui 76 persen kekerasan terhadap perempuan di Ranah Publik atau Komunitas Kekerasan Seksual yakni Pencabulan sebanyak 911 kasus, Pelecehan Seksual (704) dan Perkosaan 699 kasus. Jumlah ini akan terus mengalami peningkatan dari angka tersebut.

Modus pelecehan seksual itu beragam, seperti siulan; godaan; dan rayuan seksual; dipandang secara nakal; diejek tubuhnya; diraba-raba; tubuh dipepet; diintip saat dikamar kecil; dipaksa membuka baju; tubuh disentuh; pantat dan payu dara diremas; dipeluk dan digendong paksa; diajak hubungan seksual; dicium paksa dan dipaksa berhubungan badan.

Baru-baru ini juga mencuat kasus bahwa di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung yang notabenya adalah kampus Islami yang mengajarkan tentang agama, ahlakul karimah, justru malah ada tindakan dosen yang melakukan hal pelecehan seksual terhadap mahasiswanya oleh dosennya sendiri.

EP diketahui adalah seorang Mahasiswi Fakultas Ushuludin yang mendapat tugas untuk mengumpulkan tugas Sosiologi Agama, Jumat (21/12/2018), ke ruang SH yang merupakan dosennya. Saat itu EP dipandang secara ‘NAKAL’, oleh dosennya, kemudian mulai melakukan kontak tubuh dengan menyentuh bahu EP berkali-kali.

Bahkan, SH menyentuh dagu EP dan meraba-raba pipi. Merasa tak nyaman EP pun berniat keluar dari ruangan. Namun sang dosen mengejarnya hingga EP terpojok di dalam ruangan. Kala itulah tindak pelecehan dilakukan oknum dosen SH dengan cara menyentuh dan meraba-raba beberapa organ vital EP. Hingga akhirnya mahasiswi asal Lampung Utara tersebut melapor kepada aparat penegak hukum dan sampai saat ini sedang dalam proses penanganan.

Belum lama ini juga, kasus pelecehan seksual juga terjadi di kampus Universitas Lampung (Unila) menimpa mahasiswa semester akhir FKIP Unila inisial DCL. Perlakuan tidak senonoh itu dilakukan oknum dosen berinisial CE saat menjalani bimbingan skripsi di Lantai III, Gedung I MIPA Fisika Unila.

Saat itulah, DCL mendapat perlakuan asusila yang dilancarkan CE yang pada akhirnya oknum dosen tersebut menerima ganjaran-nya dan terkurung dalam sel tahanan setelah dilakukanya proses hukum. Belum lagi kasus yang terjadi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan masih banyak lagi bagitu merajalelanya kekerasan seksual bagi perempuan di Indonesia. Kasus-kasus tersebut adalah salah satu kasus yang sudah terekam dan menjadi kosumsi umum.

Banyaknya kasus yang telah terjadi terhadap kaum perempuan menjadi suatu peringatan penting bagi kita semua untuk bergerak bersama dalam mengkampanyekan anti kekerasan seksual terhadap perempuan. Kemudian, mendesak pemerintah pusat untuk segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan.

Sehingga kaum perempuan yang mengalami kekerasan seksual mempunyai payung hukum yang jelas, dan kuat, serta dalam memberikan pendampingan terhadap korban secara maksimal dari segala elemen. Selamat Berjuang Menyuarakan Keadilan. Salam Perempuan Saburai. ****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *