Pelajar SMAN 1 Semaka Demo Kepala Sekolah Soal Tunjangan Guru Honor?

Spread the love

Sharing is caring!

Tanggamus (SL)  –  Siswa-Siswi SMAN 1 Semaka berunjuk rasa menuntut Kepala sekolah membayar tunjangan guru honor di sekolah tersebut,  pasalnya sudah 2 bulan honor guru belum di bayarkan, sehingga para tenaga didik honorer enggan mengajar yang menyebabkan beberapa hari di kelas kosong tanpa belajar. Hal ini yang memicu siswa berdemo di halaman sekolah, Rabu(12/9).

Seperti yang di katakan salah satu siswa Restu andika selaku kordinator unjuk rasa tersebut kepada awak media di sekolah (13/9). “Benar pak kami berunjuk rasa menuntut kepala sekolah segera membayar tunjangan guru honor,  karena kami sudah beberapa hari tidak belajar karena guru tidak masuk” ,ujar siswa kelas 12 tersebut.

Di lain ruangan awak mediapun mengklarifikasi berita tersebut kepada Kepala Sekolah SMAN 1 Semaka di kantornya(13/9).”Unjuk rasa tersebut betul apa adanya, dan itu salah satu aspirasi yang harus kita hormati,  artinya di sini misskomunikasi aja, dan kami akan segera menggelar rapat dengan komite sekolah untuk mencari solusinya.

Karena sebagai Kepala sekolah saya sudah memberikan pinjaman kepada bendahara komite sebesar Rp. 105.000.000,- untuk dana talangan membayar tunjangan honorer dari bulan maret-Juni 2018, semua ini saya lakukan karena dana yang untuk membayar honor tersebut yang bersumber dari bantuan wali murid belum terkumpul di bendahara”. Tandas Drs. Timbul Prabowo.

Sementara dari ketua komite sekolah membenarkan perkataan Kepala sekolah, kalau bendahara di ketahui ketua komite mendapat pinjaman dari kepala sekolah secara pribadi.

“Benar pak,  saya selaku ketua komite sekolah mengetahui bendahara mrndapat pinjaman dari pak Timbul untuk talangan tunjangan honorer dari bulan maret sampai juni 2018 sebesar Rp. 105 juta,  dan kami akan segera melakukan musyawarah dengan wali murid mengenai masalah tersebut”. Tutup Semiyono ketua komite SMAN 1 Semaka (13/9).  (Tim).

15 Comments

  1. Shit poster ini!!, Kalok ngasih kabar totalitas donk @sinarlampung, dari judul saja itu sudah jauh dr apa yg kami inginkan sebenarnya dr unjuk rasa yg kami lakukan. Anda tadi merekam omongan saya lalu buat apa? Kalau itu tidak terlalu berpengaruh, kecewa saya telah menuruti panggilan untuk keperluan wawancara dari sinar lampung

      1. Check saya tadi berbicara banyak sekali, bahkan topik utama dalam orasi yg kami lakukan adalah bukan gaji guru honorer, tapi mengenai fasilitas” yang dijanjikan baik yg fisik maupun yg bukan, bukannya pihak sinar lampung juga membawa recorder tadi pada saat Wawancara?
        Dan ada beberapa tuntutan lg yg tidak saya tulis tp saya ucapkan tadi, check your recorder as fast as you can!!

  2. Maaf sebelumnya, Bagaimana dengan masalah ekstrakulikuler, fasilitas dan beasiswa bagi yang berprestasi ??

    Saya sering sekali mendengar bahwa para siswa mengikuti lomba menggunakan uang pribadi Dan bukan dari Dana sekolah …

  3. Tolong reread lagi tuh postingannya

    tuntutan yang kami ajukan pada saat melakukan unjuk rasa Rabu 12/9/18, itu tidak terfokus pada gaji guru honorer yang sudah 3 bulan terakhir tidak keluar, tapi ada banyak sekali, tetapi penggunaan dana mengenai:
    1.pembangunan yang dijanjikan (Ruangan ekstrakurikuler yang layak)
    2.kantin dalam sekolah yang dijanjikan
    3.air bersih yg tak kunjung datang
    4.listrik yg tidak sampai ke kelas”
    5.Potongan BOTM yang tertulis untuk anak berprestasi baik akademik maupun non akademik
    6.parkir motor (karena parkir kendaraan cuma dibawah pohon)
    7.toilet siswa yang dr dulu tidak layak sekali untuk dipakai (air kadang” ada, kancing pintunya cuma beberapa dan itu cuma pakai kayu)
    8.dukungan finansial pada organisasi yang ada disekolah, karena faktanya banyak anak” berprestasi yang lomba ke luar kabupaten maupun provinsi yang menggunakan dana pribadi namun mengatas namakan sekolah
    9.fasilitas olahraga seperti ring basket dll (karena biasanya mereka yg praktik menggunakan kotak sampah sebagai pengganti ringnya)
    10.wifi siswa yang dijanjikan namun tidak berfungsi

    Banyak siswa berprestasi yang tidak mendapatkan apresiasi semanis apa yang dulu pernah terjanjikan.
    Bahkan untuk itu tidak sedikit pula yang menggunakan dana pribadi untuk keperluan lomba, baik luar kabupaten, maupun luar provinsi namun tetap mengatas namakan sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *