Menyusuri Limbah Kandungan Sianida dan Zat Kimia Tambang Emas Cemari Aliran Sungai dan Pemukiman Warga?  - Sinar Lampung

Menyusuri Limbah Kandungan Sianida dan Zat Kimia Tambang Emas Cemari Aliran Sungai dan Pemukiman Warga? 

Spread the love

Sharing is caring!

Pesawaran (SL)-Masyarakat yang terkena dampak pencemaran perusahaan tambang emas mulai angkat bicara, dimana dua perusahaan beroperasi yaitu PT NUP (Napal Urban Picung) dan PT KBU (Karya Bukit Utama), Sabut(2/03/2019).

Sungai yang dulu bening kini coklat akibat limbah tambang emas

Pada lokasi tambang PT NUP dampak pencemaran paling parah di desa Harapan Jaya (Cikantor), sampai desa Way Kepayang bahkan hingga Desa Kubu Batu, yang berjarak puluhan kilo meter. Pada tahun 2010, pernah terjadi keracunan massal di Kampung Cikantor akibat pencemaran air kali yang  mengandung sianida dan zat-zat kimia berbahaya, pengolahan emas.

“Coba lihat pak wartawan, PT NUP pemiliknya Sahrozi yang berada diatas dusun kami. Kali dan sawah kami hancur karena limbah tambang yang hanyut terbawa air.  Airnya menjadi gatel karena mengandung zat kimia, sawah kami nggak bisa ditanami karena material batu tambang yang hanyut terbawa air saat hujan,” kata Aming, warga Cikantor, .

Air sungai menjadi penyebab gatal dikulit, karena ada zat kimia pengolahan emas, dimana emas yang terkandung didalam tanah harus di urai atau dicairkan menggunakan Cn (sianida), putasium, HO2, dan bahan caoustic (soda api). “Bahan-bahan ini sebagai pengolah emas agar terpisah dari tanah,” katanya.

Pada PT KBU lokasi tambang berada di Babakan Loak (Citangkil), Kecamatan Kedondong. Dampak pencemaran lingkungan terparah terdapat di dusun Ngadirejo (kali pasir2) desa Gunung Rejo (Anglo), Kecamatan Way Ratai, sampai Banyumas dan paling jauh Way Bunut. Informasi lain menyebutkan PT KBU sejak tanggal 12 Mei 2018 seharusnya sudah dibekukan ijin tambangnya.

Limbah dibuang ke aliran sungai

Pada proses dalam pabrik tambah terdapat emas yang direndam dalam kolam yang lebarnya kira-kira 50 x 100 meter dan dalam 6 meter, dengan cairan kimia pelarut emas, lalu didiamkan selama beberapa hari. Kemudian  ada istilah panen emas yang mencair ditangkap oleh kanbon aktif Zn (Zink), dan diolahlah menjadi emas.

Ketua RT, atas nama masyarakat Dusun Ngadirejo, Desa Gunung Rejo Anglo, Iman Somad, mengantar wartawan melihat dampak pencemaran dan meninjau lokasi tambang PT KBU. “Kali kami tidak bisa jernih lagi pak seperti dulu, karena tercemar limbah pengolahan emas. Selain itu juga gatel dan tidak bisa dipakai buat minum, kami akhirnya mengambil sumber air minum dari Anglo yang tempatnya jauh dari tempat tinggal kami,” katanya. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *