Membiarkan RTRW yang Buruk = Mengundang Bencana

Spread the love

Sharing is caring!

Oleh : Ilwadi Perkasa

BANYAKNYA korban akibat bencana gempa dan tsunami sesungguhnya adalah akibat amburadulnya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Informasi dan pengetahuan terkait zona rawan bencana gempa terkesan tertutupi oleh pembukaan kawasan pemukiman yang berkembang sangat pesat.

Peristiwa gempa dan tsunami Palu Donggala adalah bukti nyata bahwa ‘kerusakan’ tata ruang sangat mungkin terjadi di mana-nama. Yang paling menarik dibahas adalah keterangan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

Dia mengatakan pada 2012 telah dilakukan penelitian oleh Badan Geologi mengenai potensi likuifaksi di Kota Palu. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa wilayah Palu merupakan daerah dengan potensi likuifaksi sangat tinggi.

Bisa dibayangkan hasil penelian yang menyebutkan potensi kerawananan sangat tinggi itu ‘diabaikan’ hingga bencana terjadi. Lalu, bagaimana dengan di Lampung, apakah sudah pernah ada penelitian yang sama?

Untuk memahami kerawanan bencana gempa khususnya di Bandarlampung, coba kita sedikit mundur ke belakang. Pada 2006 lalu, saat itu Badan Meteorologi dan Geofisika Lampung, dipimpin Bambang S.N., menyebutkan bahwa Lampung merupakan daerah rawan gempa.

Pada tahun itu (Mei-Juli) hampir setiap hari terjadi gempa di Lampung. Meski sering, kekuatan gempa tidak lebih dari 5 Skala Richter. Menurut Bambang, gempa yang sering terjadi merupakan gempa lokal yang berpusat di Gunung Betung.

Hal ini akibat adanya pergerakan tanah dan bebatuan di daerah tersebut. Pergerakan tanah dan bebatuan karena lapisan tanah yang aktif sedang mencari kestabilan. Apakah ini bentuk awal terjadinya fenomena likufaksi?

Untuk menjawabnya tentu perlu penelitian. Dia juga mengatakan, Lampung juga sangat mungkin terlanda tsunami karena letak geografisnya serupa dengan pesisir selatan Pulau Jawa yang berhadapan langsung dengan daerah pertemuan lempeng Eurasia dan lempeng Australia.

Pemerintah daerah sebaiknya mensosialisasikan kondisi ini terutama kepada warga di sepanjang pesisir selatan Kalianda, pesisir Bandar Lampung, pesisir Tenggamus dan Lampung Barat. Kewaspadaan terhadap ancaman bencana sangat penting.

Sebab, Lampung belum mempunyai alat pendeteksi dan sistem peringatan dini terhadap bencana gempa. “Jadi langkah ini yang paling tepat dan sebagai tindak lanjut simulasi bencana gempa.”gempa di Lampung juga memicu isu tsunami.

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Lampung 2009-2029 dan studi mitigasi bencana Kota Bandar Lampung tahun 2009, wilayah Kota Bandar Lampung memiliki beberapa kawasan yang diidentifikasi sebagai kawasan rawan bencana alam, seperti gempa bumi, tanah longsor dan banjir.

@Bencana Tanah Longsor dan Gerakan Tanah Secara eksisting kawasan rawan tanah longsor di Kota Bandar Lampung terdapat di daerah yang kondisi tanahnya sangat miring sampai curam di wilayah bagian barat yaitu Kawasan Gunung Betung, Gunung Balau serta perbukitan Serampok di bagian timur.

Berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesi bulan September 2010, beberapa wilayah di Bandar Lampung juga memiliki potensi gerakan tanah kategori menengah di Kecamatan Sukarame, Tanjung Karang Timur, Panjang, Teluk Betung Utara, Teluk Betung Barat, Tanjung Karang Pusat, dan Tanjung Karang Barat.

@Rawan Gelombang Pasang dan Tsunami Berdasarkan analisis tektonik kawasan yang rawan terhadap bencana tsunami di Kota Bandar Lampung dan sekitarnya terletak di bagian utara komplek hunjaman Sunda dan di barat-utara Gunung Krakatau yang berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.

Kondisi eksisting menunjukan beberapa kawasan di Bandar Lampung berbatasan langsung dengan Teluk Lampung dan memiliki topografi landai, yaitu wilayah-wilayah Kecamatan Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Barat, dan Panjang dimana daerah ini teridentifikasi sebagai kawasan terhadap rawan bencana gelombang tsunami.

@Rawan Gempa Bumi Pengamatan lapangan dan penelitian menjelaskan bahwa Kota Bandar Lampung memiliki potensi bahaya alam yang terdiri dari bahaya goncangan gempa bumi, pergeseran tanah “ ground – faulting” bahaya pelulukan/likuifaksi akibat dari bahaya ikutan “colateral hazard” gempa bumi, tumbuh-tumbuhan yang semakin gundul, kondisi batuan yang sebagian sudah lapuk, pola drainase, kandungan cairan dalam batuan dan tanah lapukan dan tanah di beberapa tempat menunjukkan kondisi yang rentan terhadap gempa bumi.

Kawasan rawan gempabumi teridentifikasi dan dikelompokan dalam 5 zona berdasarkan potensi besaran gempa dengan skala VII MMI – IX MMI. Wilayah paling rawan berada di sekitar Teluk Betung Selatan, Panjang, sebagian Teluk Betung Utara, Teluk Betung Barat, dan Tanjung Karang Pusat. Sedangkan kawasan yang relatif aman dengan potensi paling rendah ada di Kecamatan Rajabasa, Kecamatan Kedaton, Kecamatan Sukarame, dan Kecamatan Tanjung Senang. (***)

Penulis adalah Dewan Redaksi Sinarlampung.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *