Mahasiswa Estafet Generasi: Kemana Mereka? - Sinar Lampung

Mahasiswa Estafet Generasi: Kemana Mereka?

Spread the love

Sharing is caring!

Oleh : Handoko

(Ketua Bidang Riset dan Keilmuan PC IMM Pringsewu)

Memasuki abad ke 21 khususnya Indonesia, fenomena-fenomena yang sangat memprihatinkan ada di depan kita bahkan kita mampu rasakan setiap hari. Kita sebagai pemain aktifitas mikro harus berjuang untuk melawan “Status quo” para sang pengendali kursi supra-struktur. Bagaimana prilaku sang penguasa terhadap masyarakat. Mereka bersembunyi dibalik papan nama amanat rakyat yang kemudian memainkan peran kamuflase. Korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi budaya dan trend yang sangat populer melekat pada jiwa penguasa sehingga mengubah tatanan perekonomian secara makro. Berbagai macam cara dilakukan oleh sang penguasa untuk melegalkan perbuatannya.

Pada akhirnya, watak yang di tampilkan oleh sebuah kekuasaan adalah “Watak Jahat”. Kekuasaan yang berwatak jahat akan menghasilkan supra struktur dan hokum seperti anjing penjaga yang terbungkus kedalam berbagai doktrin yang mana digunakan untuk mengendalikan kekuasaan tersebut. Dalam buku Sosialisme Islam: Pemikiran Ali Syariati (Eko Supriyadi, 2003) mengemukakan bahwa, realitas yang sedang terjadi begitu Nampak terlihat, ujaran kebencian terhadap agama dan ayat – ayat Al’Quran diplintirkan ke kanan dan kekiri disulap sebagai senjata untuk mengelabuhi sehingga kebenaran menjadi seperti sayur tanpa garam, sementara kejahatan layaknya seperti makanan yang enak lagi halal dan terasa nikmat.

Keadilan layaknya benda antik yang sangat sulit ditemukan di pasar pasar, bahkan kebenaran tidak mampu keluar dari balik para pecundang. Ini memberikan suatu tanda kepada kita bahwa bobroknya sistemkarena moral sumber daya manusia yang menduduki kursi supra-struktur sangat memprihatinkan.

Padahal sebagai pemegang kekuasaan, orientasi kebijakan pada kesejahtraan masyarakat harus dikedepankan. Otoritas yang dimiliki harus dipergunakan sebaik mungkin sehingga output yang di capai adalah “Kesejahteraan”. Ciri ciri kekuasaan yang baik (Benevolent) adalah, (1)  kekuasaan yang berwatak mengabdi pada kepentingan umum, (2) Kekuasaan yang melihat kepada lapisan masyarakat yang susah, (3) Kekuasaan yang selalu memikirkan kepentingan public, (4) Kekuasaan yang kosong dari kepentingan subyektif, (5) Kekuasaan yang mengasihani. (Satjipto Raharjo, 2010 : 158)

Terjebak Dalam Arus

Ditengah perburuan dunia ini bukannya memerangi, manusia justru cenderung ikut terjerumus pada pusaran pusaran matrealisme dengan seluruh antek antek ideologinya. Bagaimana ideology tersebut sangat deras membanjiri otak-otak manusia sehingga membendung akal sehat dan nuraninya untuk keluar dari fenomena-fenomena tersebut diatas. mereka saling bertikai merebutkan kenikmatan-kenikmatan sementara dalam perburuan dunia dan lupa dengan semangat gotong royongnya dan kekeluargaan yang menjadi pilar penting terhadap kuatnya tatanan mereka.

Lain halnya dengan mahasiswa. Pemuda yang berasal dari tatanan masyarakat digadang gadang mampu menjadi “problem solving” dari berbagai fenomena diatas, namun sepertinya mereka sudah kehilangan harta yang paling berharga, yaitu “Nurani” dan “Akal sehat”. Tapi anehnyan kehilangan itu tidak menjadi sebuah penyesalan yang berarti. Justru mereka menari-nari dan berlenggak lenggok berjalan tanpa menghiraukan apa yang terjadi. Fenomena-fenomena di atas seolah tidak pernah terjadi dan dibiarkan lewat begitu saja tanpa mampir di benak mereka . Karna kondisi jiwa mahasiswa sudah jauh berubah. Cara pandang, gaya hidup, kecenderungan berfikir pada satu doktrin yang abal-abal, pilihan hidup, semua menuju kubangan besar yang bernama “ Hedonisme” dan saudara kembarnya “Materialisme”.

Meskipun tidak semua, hampir semua mahasiswa saat ini mampu mengkritik kubangan bersaudara tersebut (Hedonisme dan Matrealisme). Mereka menganggap menjadi mahasiswa yang benar dengan kritik-kritiknya, namun nyatanya merekalah yang terjebak dalam buaian-buaian hedonis-materialis. Mereka tidak sadar alih alih membela kepentingan rakyat, justru mereka malah menjadi pelaku hedonis-matrealis dan memupuk praktek hedonis-matrealis sejak dini sehingga tumbuh dengan subur dan membuka peluang untuk memunculkan generasi baru sang penguasa perusak di generasi yang akan datang.

Hilang Karena Sistem

Tak bisa dipungkiri, historis keheroikan gerakan mahasiswa telah menggoreskan banyak catatan-catatan gerakan pembaharuan. Sikap kritis dan kepedulian terhadap kondisi riil masyarakat terus dimiliki mahasiswa sehingga tak segan-segan melakukan pengorbanan demi kejayaan bangsanya. Bisa kita lihat di Indonesia, sejak sumpah pemuda sampai proklamasi kemerdekaan, kaum intelektual muda sudah memiliki peran besar.

Gerakan intelektual muda atau sebut saja gerakan mahasiswa telah mampu mendorong terjadinya people power, yang melahirkan perubahan haluan bagi tatanan kehidupan bernegara dan pembangunan iklim demokrasi. Reformasi adalah contoh yang paling segar yang dapat kita pelajari. Bagaimana reformasi dapat meruntuhkan dominasi otoritarian orde baru dan mewujudkan sebuah tatanan demokrasi bagi Indonesia baru.

Sekali lagi itu semua tidak lepas dari dorongan gerakan mahasiswa yang menjadi penggerak sehingga mendapat dukungan rakyat secara penuh. Catatan lain yang ditoreh misalnya gerakan penggulingan orde lama pada tahun 1966, gerakan mahasiswa 1974 dan gerakan mahasiswa dalam rentang 1980 hingga 1990an yang masing masing memiliki peranan penting dan mengambil strategi “gerilya” sebagai ciri untuk melawan tindakan otoriter kampus dan pemerintahan.

Berbagai catatan history tersebut tentunya akan menjadi sebuah poin penting bagi para penguasa “jahat” yang menduduki kursi “supra-Struktur. Mahasiswa yang kritis dan peka akan lingkungan tentunya akan memiliki potensi ancaman terhada para pemangku kekuasaan yang korup dan otoriter. Dimata penguasa, membiarkan gerakan mahasiswa terus tumbuh, berkembang, dan meluas merupakan bahaya laten bagi eksistensi kekuasaan. Maka dari itu berbagai upaya kerapkali dilakukan oleh penguasa atau para pengambil kebijakan dalam mematahkan atau minimal meredam potensi hadirnya gerakan mahasiswa yang akan menjadi penyeimbang terhadap posisi kekuasaan.

Lewat berbagai kebijakan dan teknik, upaya pelemahan, penggerusan maupun pembekuan gerakan mahasiswa lewat berbagai kebijakan sistem akademik terus dilakukan. Inilah beberapa pola yang transparan dapat kita lihat dalam dunia kampus dan perkuliahan dalam upaya pelemahan gerakan mahasiswa.

Pertama, kebijakan sistem SKS (kredit semester) dan drop out (DO). Dalam perspektif rektorat, kebijakan ini merupakan upaya menjaga mutu fakultas atau jurusan yang bersangkutan. Namun dalam pandangan kebutuhan gerakan mahasiswa, sistem ini justru mengorientasikan mahasiswa untuk fokus hanya pada soal akademik dan mengesampingkan kebutuhan sosial-politik bangsa akan hadirnya mahasiswa yang kritis dan peduli.

Kedua, Ongkos pendidikan perguruan tinggi. Mahalnya biaya di perguruan tinggi menjadikan mahasiswa tidak ingin terlibat dalam organisasi kemahasiswaan serta hanya berpikir kuliah dan mendapatkan hasil ujian memuaskan.

Ketiga, pembangunan paradigma mahasiswa akademis yang berkutat di ruang pengap (ruang kuliah dan perpustakaan).

Keempat, pemberian beasiswa kepada para aktivis kampus yang dinilai vokal dan rajin mengkritik.

Indikasi-indikasi di atas perlu diperhatikan cermat dan dikoreksi ulang. Mahasiswa aktivis belum tentu ber-IPK buruk. Banyak kita jumpai mahasiswa aktivis yang memiliki IPK 3 ke atas dan lulus cepat. Saat ini pusaran materialis-hedonis mahasiswa harus diakui semakin mengakar di tengah gerakan mahasiswa. Masuk kuliah sekadar mengisi presensi, mencatat jika tidak malas, melakukan copy-paste pada tugas makalah dan paper serta menyontek saat ujian telah berjangkit lama di dunia kampus.

Mahasiswa dengan IPK tinggi juga tidak menjadi tolak ukur dikatakan akademis karena ukuran untuk menilai akademis atau tidak cukup kabur saat ini. Perlu di ingat bahwa IPK tinggi akan mengantarkan kita mendapat kesempatan wawancara, tapi kepemimpinan, daya kritis dan kepekaan yang akan mengantarkan kita menjadi kader bangsa sejati. Dan itu bisa diperoleh dari dunia gerakan (Gerakan Mahasiswa).

Organisasi Mahasiswa sebagai Solusi

Berbagai rentetan fenomena kekuasaan dan dinamika kemahasiswaan tentunya menjadi sorotan yang sangat mencolok. Menjdi duka yang sangat mendalam ketika penguasa yang “jahat” dibiatkan begitu saja dan mahasiswa tertidur pulas dalam pangkuan matrialis-hedonis dan rekayasa sistem kampus. Harus ada yang mampu merebut mahasiswa dari  dari pangkuan materialis-hedonis dan mengasah taring yang telah tumpul untuk mengganyak sistem kekuasaan yang “jahat”.

Hadirnya Organisasi Mahasiswa sebagai sebuah solusi dalam memecahkan permasalahan permasalahan ini. Menanamkan idealisme sebagai mahasiswa dan menggembleng karakter heroik dalam diri mahasiswa seperti menanamkan kejujuran, kecintaan terhadap tanah air serta ketaatan dalam agamanya. organisasi mahasiswa yang mampu menjadi wadah pendidikan karakter seorang mahasiswa sehingga mampu menjadi muadzin yang mengumandangkan kebenaran yang haq dan senantiasa memerangi kebatilan.

Selain itu organisasi mahasiswa juga harus mampu membendung derasnya arus matrealis-hedonis yang membanjiri orientasi mahasiswa kebanyakan. Dan lebih jauh, organisasi mahasiswa juga harus mampu membendung dan menyortir berbagai ideology yang masuk seperti komunisme, liberalisme, radikalisme, terorisme sampai jaringan gelap freemasonry yang sangat mengancam keutuhan NKRI dan kenyamanan dalam beribadah.

Tidak Dimemanfaatkan Globalisasi.

Seiring bergantinya waktu, perubahan demi perubahan akan terus terjadi. Perubahan yang terjadi sebenarnya dapat menjadi peluang bagi Mahasiswa dan setiap organisasi apa saja untuk menempatkan dirinya secara layak dan memberikan sumbangsih berbagai pemikirannya sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Namun yang terjadi sebaliknya. Dalam skala global, perubahan tersebut justru banyak merugikan berbagai organisasi. Mulai dari organisasi kecil sampai organisasi besar. Bahkan Prubahan secara global telah memangsa organisasi raksasa seperti uni soviet.

Dalam buku Mahasiswa dan masa depan politik Indonesia Mohammad Djazman Alkindi (1993) dalam sebuah refleksi menyampaikan bahwa sebagaimana Soviet Rusia telah berhasil ditenggelamkan oleh proses globalisasi, yang sekedar disebabkan oleh perbedaan peandangan tentang saat yang tepat untuk membuka diri, khususnya dibidang ekonomi. Perbedaan pandangan antara Gorbachev yang moderat dengan yeltsin yang radikal, tidak saja menjatuhkan Gorbachev tetapi juga telah memecah belah Soviet Uni dan menenggelamkan komunisme sebagai ideologi Negara.

Globalisasi akan menjadi manuver politik berbagai sektor ideology besar dan kekuasaan supra-struktur. Objek yang sangat menjanjikan adalah mahasiswa dan berbagai organisasi kemahasiswaan. Tentunya menjadi suatu respon yang sangat berciri khas bagi mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan, adalah reaksi yang vulgar untuk merubah dictum “dimanfaatkan Globalisasi” menjadi “Memanfaatkan Globalisasi”.

Kita dapat belajar bagaimana berbagai organisasi besar bisa tergilas oleh perubahan global, sehingga bisa menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa dan organisasi mahasiswa untuk memantaskan diri dan memanfaatkan globalisasi untuk berjuang dan berlomba-lomba dalam kebaikan dan menggapai ridho illahi.

Bukan sekedar Pelanjut

Generasi muda atau mahasiswa secara spesifik tentunya akan menjadi ahli waris (Regenerasi) dari masa sebelumnya. Bahkan secara makro, Mahasiswa akan menjadi pewaris cita-cita suatu bangsa yang besar. Oleh karna itu, Mahasiswa harus menjadi sumber daya manusia yang unggul, baik unggul secara teori maupun secara praktek. Dalam rangka mempersiapkan generasi yang unggul, maka perlu ditanamkan dan ditumbukan kesadarannya dengan menggali lebih dalam idealisme dan wawasan pengetahuan lintas masa. Mahasiswa juga harus mampu menerapkan kedisiplinan, budi pekerti dan kesantunan, memupuk daya kreatif dan inovasi demi kemandirian.

Sektor ini tentunya akan sangat penting, mengingat yang akan mereka lawan adalah nafsu akan kekuasaan yang matrealis-Hedonis, mahasiswa akan  bertempur dengan dirinya sendiri. Seperti yang telah disebutkan diatas, mahasiswa akan dihadapkan pada arus yang mana mereka bisa terjebak didalamnya dan justru berbalik menjadi generasi perusak.

Dilain sisi, berbagai ideologi besar yang berorientasi negative seperti komunisme, liberalisme, Materialisme, bahkan ideologi-ideologi seperti LGBT dan jaringan gelap freemasonry baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi akan ikut mensukseskan pembentukan karakter para mahasiswa sebagai generasi penerus. Mereka akan senantiasa ikut andil didalamnya sehingga perlu adanya.

Dimensi ideologis sangatlah penting dan mutlak harus dimiliki seorang generasi penerus. Dimensi ini akan menjadi tumpuan kearah mana mahasiswa akan berjuang. Mahasiswa harus mengambil peran dalam mengembangkan idealismenya, menjadi muadzin dalam mengumandangkan kebenaran yang haq dan memerangi kebatilan, memerangi gencetan materialism di kalangan penguasa dan menjadi pendidik dan menumbuhkan kemurnian berfikir masyarakat awam.

Mahasiswa bukan sekedar menjadi pelanjut dari generasi pendahulunya serta bukan pula sebagai penggerak dari bangunan gedung yang sudah selesai. Namun mahasiswa adalah stok inovasi dan kreativitas yang sangat strategis untuk keberlangsungan generasi. Seperti ungkapan seorang ulama “tegak berdirilah engkau dengan akal pikiranmu dalam hidup ini untuk berjuang, sebab sesungguhnya kehidupan itu adalah keyakinan dan perjuangan,” (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *