Lodewijk F Paulus Sosilisasi dan Penguatan 4 Pilar Kebangsaan di Way Lima - Sinarlampung.com

Lodewijk F Paulus Sosilisasi dan Penguatan 4 Pilar Kebangsaan di Way Lima

Spread the love

Sharing is caring!

Pesawaran (SL)-Sekertaris Jenderal (Sejen) DPP Partai Golkar Letjen TNI (pur) H Lodewijk F Paulus, menggelar sosialisasi dan penguatan empat Pilar Kebangsaan, kepada masyarakat dan kader Partai Golkar, di Desa Tanjung Agung, Kecamatan Way Lima, Pesawaran, Rabu (3/4) siang

Ririn serahkan hadiah door ress,

Acara program Sekjen DPP Partai Golkar itu diwakili Ketua Komisi I DPR Provinsi Lampung, Ririn Kuswantari, dihadiri sekitar 150 peserta dari unsur tokoh masyarakat, pemuda, dan kader. “Kegiatan ini adalah pendidikan Politik, dengan tujuan menyegarkan kembali 4 pilar kebangsaan. Ini sudah ada sehari hari pada diri kita. Kita hari ini hanya menyegarkan kembali,” kata Ririn, kediaman H. Mustika Bahrum,

Hadir pula ketua DPD Golkar Pesawaran Yusak, Fraksi Partai Golkar Kabupaten Pesawaran, Dra Hj Erlinda Widiastuti MPdi, tokoh sepuh Golkar. Dihadapan warga. Ririn menyampaikan permohonan maaf Sekjen DPP, tidak dapat hadir karena masih mendampingi kampanye Capres no 1. “Pak Lodewijk, ingin sekali bisa bertatap muka langsung, tapi karena kesibukan bersama Capres belum bisa hadir. beliau titip salam,” katanya.

Ririn menjelaskan 4 Pilar yaitu Pancasila, UU 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. “Dasar dan tiang bangsa, dengan kesatuan dalam keaneka ragaman,” kata Ririn, yang juga menjelaskan siapa sosok mantan Danjen Kopassus, Lodewijk.

Ketua Panitia acara dn juga tuan rumah, H Mustika Bahrum, anggota DPRD Pesawaran mengatakan sosialisasi empat pilar kebangsaan ini untuk mengingatkan kembali kepada warga negara tentang apa itu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. “Sosialisasi ini tujuannya agar masyarakat paham apa itu arti empat pilar,” kata Mustika.

Menurut Mustika, yang juga Caleg Partai Golkar Dapil 2 Kecamatan Way Lima, bahwa empat pilar kebangsaan ini dapat memperkuat rasa kebangsaan dan nasionalisme warga negara. “Kita masyarakat harus tetap dan selalu diingatkan bahwa semua yang hidup di dalam wilayah nusantara ini masih dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi nilai kebangsaan itu tidak hanya sekedar lipe service alias terucap di bibir saja,” kata Mustika. (Red)

Tinggalkan Balasan