Laptop Jadul

Spread the love

Sharing is caring!

 

Oleh : Wirahadikusuma

“Ini laptop jadul ya bang?” tanya adik tingkat saya di kampus ketika berkunjung ke rumah saya pekan lalu.

Ya, saat itu, dia berkunjung ketika saya sedang mengerjakan sesuatu dengan laptop ini.

Saya membenarkan jika laptop tersebut sudah 10 tahun bersama saya. Namun, saya tegaskan kepadanya, kendati jadul, laptop ini bersejarah bagi saya.

Laptop ini saya beli dengan hasil keringat sendiri ketika baru beberapa bulan menjadi wartawan SKH Radar Lampung. Seingat saya di akhir tahun 2008 saya membelinya.

Saya ceritakan kepadanya, saya membeli laptop ini karena ada rasa “iri” kala itu lantaran di pertengahan tahun 2008 saya tidak mendapatkan pembagian jatah laptop dari kantor.

Sebenarnya bukan saya saja yang tidak dapat jatah laptop kala itu, ada beberapa wartawan juga tidak mendapatkan bagian. Saat itu yang dibagikan laptop hanya tujuh wartawan. Lima wartawan yang memback-up pasangan bakal calon kepala daerah dan satu wartawan yang pos liputannya di pemkot dan pemprov.

Kala itu, manajemen kantor menyatakan bakal ada pembagian laptop kembali kepada wartawan yang belum kebagian untuk tahun berikutnya. Tetapi jumlah laptopnya belum diketahui.

Saya berpikir saat itu, meski ada pembagian laptop “kloter’ kedua, kemungkinan besar saya tidak akan kebagian juga. Sebab, saya adalah wartawan SKH Radar Lampung paling junior di tahun 2008.

Kala itu saya realistis saja, sebagai wartawan paling junior yang baru beberapa bulan bergabung, pasti tidak akan menjadi prioritas dalam pembagian fasilitas dari kantor.

Akhirnya, saya lantas memutuskan untuk membeli laptop sendiri di akhir tahun 2008. Tetapi karena tidak punya uang, saya memberanikan diri membeli laptop secara kredit.

Angsurannya sebesar Rp700 ribu per bulan selama sepuluh bulan. Pembayarannya saya pilih setiap tanggal 15. Saya memilih tanggal tersebut, karena setiap tanggal 15 saya mendapatkan uang tunjangan prestasi (TP) dari kantor.

Ya, jurnalis SKH Radar Lampung memang mendapatkan cash money dari kantor dua kali dalam sebulan. Pertama setiap tanggal 27, yakni berupa gaji pokok, tunjangan-tunjangan, uang transportasi, dan uang makan. Kemudian setiap tanggal 15, berupa uang TP.

Uang TP besarannya dihitung dari jumlah laporan berita yang diterbitkan di koran. Ada rumus dalam menghitungnya. Jika laporan jurnalis tersebut headline, point-nya besar. Jika laporan beritanya hanya menjadi kirian koran, point-nya kecil. Jika tidak terbit, ya tidak dihitung. Kemudian, jika menulis features, nilai point-nya setara headline.

Penentuan berita headline, second headline, atau kirian, pastinya dilihat dari news value dari laporan masing-masing wartawan.

Nah, kala itu agar bisa mendapatkan uang TP yang besar, saya bersemangat mencari berita sebanyak-banyaknya dan sebagus-bagusnya. Sebab, dengan begitu, peluang untuk laporan saya terbit di koran juga besar.

Saat itu saya menargetkan kepada diri saya minimal dalam sehari harus membawa pulang lima berita ke kantor. Dan lima berita itu harus memiliki news value yang tinggi. Kebetulan kala itu pos liputan saya cukup banyak yakni Polsek se-Bandarlampung ditambah Tanjungbintang dan Gedongtataan serta Padangcermin. Kemudian rumah sakit se-Bandarlampung, Polresta Bandarlampung, dan Polda Lampung.

Di akhir tahun 2008 hingga 2009 itu produktivitas berita saya cukup banyak, bahkan beberapa kali halaman satu Radar Lampung didominasi berita saya.

Alhasil, kala itu rata-rata saya bisa mendapatkan TP Rp1,8 juta, bahkan pernah beberapa kali diatas Rp2 juta.

Dari uang TP itulah saya bisa membayar kredit laptop tersebut. Meskipun saat pembagian laptop “kloter” kedua, saya ternyata juga mendapatkan jatah dari kantor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *