Kronologi Kerusuhan Pemira UIN Raden Intan

Spread the love

Sharing is caring!

Bandarlampung (SL) – Pemilihan raya mahasiswa (pemira) UIN Raden Intan Lampung berujung ricuh. Kericuhan ini bermula dari TPS yang berada di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang dipicu oleh pendukung pasangan calon nomor urut dua (Imam-Habib) yang memprovokasi pendukung nomor urut satu (Ghofar-Dinata) saat dalam antrian menuju bilik suara.

Perlu diketahui pula bahwa pasangan Imam-Habib direkomendasikan oleh dua organisasi ekstra kampus HMI dan KAMMI sedangkan Ghofar-Dinata direkomendasikan PMII.

Kronologi kejadian:
Pukul 08.00 TPS yang berada di fakultas tarbiyah dan keguruan dibuka untuk melaksanakan pemungutan suara.
Sekitar 300 mahasiswa berbaris di pintu masuk untuk melakukan pemungutan suara. Satu jam berselang barisan manusia ini bertambah menjadi 600 manusia.

Memasuki pukul 10.00 wib terjadi aksi pendorongan yang dilakukan dari arah belakang antrian. Namun, aksi ini masih mampu diredam oleh panitia pelaksana dan panitia pengawas pemira. Beberapa menit kemudian pendorongan kembali terjadi dengan intensitas yang cukup tinggi, sedikitnya terjadi lima kali dalam kurun waktu satu jam 10.00-11.00 wib.

Puncaknya terjadi aksi pelemparan kotak suara, yang dilakukan oleh HS -inisial- sekretaris panitia pelaksana pemira sebagai buntut provokasi yang dilakukan oleh pendukung pasangan calon nomor urut dua. Kejadian ini diduga karena terjadi penggelembungan suara.

Pendukung pasangan calon nomor urut dua kembali melakukan pendorongan terhadap pendukung nomor urut satu yang berbaris didepannya. Bukan hanya melakukan pendorongan, pendukung nomor urut dua melakukan penyerangan terhadap pendukung nomor urut satu, dengan melakukan pemukulan dan merusak fasilitas penyelenggara pemira.

Puluhan kursi patah, satu unit tenda ambruk dan dua buah kotak suara dirusak dalam kejadian ini. Bukan hanya fasilitas, terdapat pula 6 korban luka dari pendukung nomor urut satu, akibat penyerangan yang dilakukan oleh pendukung nomor urut dua.

Pukul 12.00 hujan batu dan kursi tak lagi dapat dihindari. Panlak dan panwas tak lagi dapat meredam kericuhan yang terjadi.

Pukul 12.10 wib kericuhan bertambah besar, karena pendukung pasangan calon nomor urut 2 mencoba merusak kotak suara yang berada didalam TPS dan melempari batu dan kursi ke arah TPS. Beberapa tembakan peringatan dilepaskan oleh kepolisian yang bertugas untuk mengamankan jalannya pemira, namun tak diindahkan oleh pendukung nomor urut dua.

Dalam kondisi yang dihujani lemparan batu dan kursi, pendukung nomor urut satu bertahan dengan bergerak ke arah gedung jurusan bahasa arab. Akhirnya aksi lempar batu dan saling kejar pun tak tak terhindarkan hingga pukul 13.00 wib. Aksi sempat mereda setelah pihak keamanan menenangkan dua pendukung.

Sekitar Pukul 14.00 hingga pukul 16.00 pendukung nomor urut dua berdemonstrasi di halaman rektorat UIN Raden Intan, dengan tuntutan pemira ulang.

Pukul 16.00 pendukung nomor urut dua melakukan ‘sweeping’ ke sekret panlak dan panwas, salah satu panitia pelaksana di fakultas dakwah mereka temui terluka akibat pengeroyokan yang dilakukan oleh pendukung nomor urut dua. Setelah melakukan pengeroyokan massa dari pendukung nomor urut dua bergerak menuju sekretariat panlak dan panwas fakultas syari’ah untuk menanyakan lokasi kotak suara, dan keseluruh sekret panitia pelaksana dan pengawas di semua fakultas.

Pukul 17.00 massa dari pendukung nomor urut dua ini kembali ke fakultas dakwah untuk melakukan pengerusakan terhadap kotak suara yang telah disimpan di ruang dekanat fakultas dakwah. Namun mereka tak menemui lokasi kotak suara tersebut.

Selanjutnya mereka bergerak ke arah fakultas syariah untuk mencari lokasi penyimpanan kotak suara. Dengan melakukan pengerusakan jendela mereka masuk ke ruang dekanat fakultas syari’ah untuk mencuri kotak suara dan membakar surat suara yang ada di dalamnya.

kotak suara dibakar

Setelah melakukan pengerusakan fasilitas kampus dan mencuri kotak suara di fakultas syari’ah, pendukung nomor urut dua bergerak menuju lokasi penyimpanan kotak suara fakultas tarbiyah dan keguruan. Dengan membawa senjata tajam dan alat-alat bangunan, pendukung nomor urut dua ini merusak dan mencuri kotak suara yang telah disimpan di ruangan kepala jurusan Bahasa Arab.

Pengerusakan demi pengerusakan dilakukan oleh para pendukung nomor urut dua demi mencuri dan merusak kotak suara. Bahkan mereka tak segan-segan melukai orang lain yang menghalangi usahanya dalam melakukan tindakan anarkis.

Usut punya usut ternyata sekretaris panitia pelaksana HS (inisial) merupakan salah satu kader dari HMI, yang melempar kotak suara untuk memancing keributan. Nampaknya keributan ini memang diinginkan oleh pendukung nomor urut dua, agar terjadi kekacauan dalam mekanisme pemilihan.

Terlebih, dugaan para pendukung nomor urut dua bahwa telah terjadi penggelembungan suara tak terbukti. Apabila memang terjadi penggelembungan suara tentunya akan terdeteksi oleh para saksi masing-masing calon. Namun, tindakan yang diambil oleh para pendukung calon nomor urut dua menunjukkan sisi sebaliknya, dugaan mereka bahwa telah terjadi kecurangan berupa penggelembungan suara tidak mereka buktikan, mereka justru mencuri dan merusak surat suara, seolah-olah tengah menghilangkan barang bukti, bukannya menunjukkan bukti kecurangan.

Menurut Keterangan salah Satu Mahasiwa UIN yang tidak ingin disebut namanya, ada dugaan kuat masa yang ricuh dari pendukung nomor urut dua tak murni mahasiswa UIN saja. “Masa mereka ada tambahan dari Unila dan beberapa kampus luar lainnya” tuturnya (CRPRI)

2 Comments

  1. HOAX. Woy jangan buat framing yg menyudutkan paslon nomor 2 dong . Ketahuan redaksi yang nulis berita nya orang orang kubu paslon nomor 1 .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *