Hari Puisi di Riau, Ratusan penyair Baca Puisi, Diskusi dan Susur Sungai Bersama Presiden Penyair

Spread the love

Sharing is caring!

PEKANBARU (SL)- RATUSAN penyair menyusuri Sungai Subayang yang membelah Bukit Rimbang dan Baling di Kampar Kiri Hulu. Mereka beramai-ramai naik piyau (perahu sampan). Ada Presiden penyair Indonesis Sutardji Calzoum Bachri di antara meraka. Para penyair ini sedang mengikuti jelajah budaya dan puisi dalam rangkaian perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) Di Riau 3-5 Agustus.

Kegiatan yang ditaja Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS) ini merambah hingga ke desa-desa yang ada di Rantau Kampar Kiri dan Kampar Kiri Hulu Hulu tersebut. Di antaranya Desa Padang Sawah, Lipatkain, Kuntu dan Tanjung Belit. Para penyair dengan leluasa berdiskusi dan membacakan puisi di tengah-tengah masyarakat hingga ke atas perahu.

Delapan piyau mengangkut para penyair hingga ke stasiun WWF di Desa Tanjung Belit, tempat para penyair bermalam. Ada Nik Mansour Nik Halim dari Vietnam, Lya Zam dan Lina Lin dari Malaysia, Rohani Din dari Singapura dan masih banyak lainnya dari berbagai provinsi di Indonesia. Perahu itu bergantian mengusung mereka.

Satu perahu bisa mengusung 16-20 orang. Apalagi, mereka membacakan puisi di atas perahu dan menduskusikannya saat kumpul bersama di stasiun tersebut. Ada Fakhrunnas MA Jabbar, Syarifuddin Arifin, Iyut Fitra, Hermawan, Kunni Masrohanti dan Sutardji sendiri. Diskusi ringan malam itu berjalan hingga larut. Semakin santai ketika diskusi juga diwarnai dengan pembacaan puisi dan musikalisasi puisi.

Mengapa harus menjadi penyair, bagaimana bisa bertahan menjadi penyair, apa tips agar tetap menulis puisi dan berbagai pertanyaan lainnya dikupas malam itu. Udara dingin yang menyapu bagian bawah rumah panggung tanpa dinding dan suara rimba yang mengawang hingga jauh, membuat suasana diskusi semakin asyik penuh keakraban. Belajar dan salig berbagi, itulah yang mereka lakukan setelah sejak pagi mereka bertamasya batin dan berpuisi bersama masyarakat dan raja di Kerajaan Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan.

Sebelum menuju Desa Tanjung Belit, para penyair singgah di Desa Padang Sawah. Rombongan yang di dalamnya juga ada Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri ini, disambut ratusan masyarakat. Begitu sampai di desa dan melalui rumah-rumah tua, rombongan langsung disambut dengan silat. Persis di tengah jalan di depan rumah tersebut. Di atas jalan tanah dan sedikit berkerikil, dia lelaki berpakaian hitam, saling berhadapan, saling menunjukkan gerak penyambutan.

Tidak jauh dari lokasi penyambutan, tepatnya di halaman salah satu rumah tua, puluhan tikar kecil (matras) sudah terbentang. Penyair duduk melantai bersama masyarakat. Di sinilah para penyair membacakan puisi dan saling berbagi. Syafi’i, salah satu tokoh masyarakat yang menyambut langsung kedatangan penyair ini mengatakan, Padang Sawah merupakan salah satu desa tua yang memiliki banyak sejarah.

‘’Jelajah budaya di Rantau Kampar Kiri memperkaya dan menambah inspirasi bagi kami. Banyak sekali yang dilihat. Riau kaya adat dan sejarah. Kalau awalnya kami tahu Rantau Kampar Kiri saat menulis puisi, itu baru kulitnya. Setelah sampai langsung ke tempatnya, sangat luar biasa. Masyarakatnya ramah, alamnya indah,’’ ujar Neneng, salah seorang penyair asal Jawa Barat. (rls/kun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *