Gudang Lobster Ilegal di Pesisir Barat Yang Digrebek Bareskrim Polri Milik Oknum Anggota DPRD Lampung Barat? - Sinarlampung.com

Gudang Lobster Ilegal di Pesisir Barat Yang Digrebek Bareskrim Polri Milik Oknum Anggota DPRD Lampung Barat?

Spread the love

Bandar Lampung (SL)-Mabes Polri kembangkan kasus penggrebekan gudang pengemasan benih lobster yang akan dijual ilegal di Pesisir Barat, Lampung pekan lalu, Bisnis Lobter ilegal itu ternyata melibatkan oknum anggota DPRD Kabupaten Lampung Barat.

“Di Pesisir Barat, paling tidak ada tiga penampung bibit lobster. Salah satunya anggota Dewan yang baru digrebek Polda itu. Masih ada dua lagi penampung yang melibatkan pengusaha besar,” kata sumber, dilangsir Lampungpro.com, Kamis (15/8/2019).

Sumber tersebut memberikan data yakni praktek bisnis ilegal ini mampu meraup untung ratusan miliar. “Putaran duitnya tinggi dan ini terjadi sejak tahun 2014. Per ekor Rp18 ribu beli sama nelayan, lalu dijual ke Vietnam dan Singapura Rp125 ribu per ekor.┬áRata-rata per hari dia bisa menampung 25 ribuan bibit lobster. Nah, hitung aja berapa omzetnya,” kata sumber tersebut.

Maraknya praktek benih ilegal ini menurut mantan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lampung, Marzuki Yazid, dampak dari Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen-KP) Nomor 56/Permen-KP/2016 tentang Larangan Penangkapan dan atau Pengeluaran Lobster (Panulirus), Kepiting (Scylla), dan Rajungan (Portunus pelagicus). “Peraturan┬áini di dalamnya melarang juga benih dijualbelikan untuk budidaya. Akibatnya budidaya laut Indonesia hususnya Lampung hancur lebur,” kata Marzuki Yazid.

Dia menambahkan selain budidaya laut hancur, keramba jaring apung laut juga ikut gulung tikar, sehingga produksi anjolk drastis. “Ada data produksi ikan kerapu di pusat yang aneh. Misalnya, di 2014 sebanyak 5.000 ton, kemudian di 2015 naik 11.000, dan di 2016 naik lagi jadi 40.000 ton. Tapi 2018 lenyap, ngak disajikan data lagi,” kata Marzuki Yazid yang juga pengusaha perikanan ini.

Terkait keterlibatan nelayan dalam benih ilegal ini, dia mengatakan nelayan itu naluri mempertahankan hidupn. “Itu mungkin saja, tapi jika itu dikendalikan untuk kegiatan lanjutan budidaya, seharusnya boleh dong. Permen tersebut bukan solusi, karena hanya menambah persoalan. Selain itu, lemahnya pengawasan. Parahnya lagi benih lobster yang sempat besar di perairan Belimbing tidak boleh nelayan masuk untuk menangkap ikan,” kata dia.

Sebelumnya Bareskrim Polri menggerebek gudang pengemasan benih lobster yang akan dijual secara ilegal. Pengungkapan itu juga menyelamatkan sumber daya ikan senilai miliaran rupiah. “Tim berhasil melakukan penggerebekan terhadap tempat packing dan gudang Benih Lobster beserta kelengkapan alat packing,” kata Kasubdit IV Dittipiter Bareskrim Polri, Kombes Parlindungan Silitonga, Selasa (13/8/2019).

Penggerebekan itu dilakukan di Pesisir Barat, Lampung pada 7 Agustus lalu. Di gudang tersebut polisi menangkap empat tersangka dan mengamankan benih lobster sejumlah 41.893 ekor. Keempat tersangka yang ditangkap yakni Yacobson (49), Mulyadi (50), Fidriansyah (35) Sutisno (41). Mereka merupakan pekerja di gudang tersebut.

Selain itu tim juga lima tersangka lain yang mengangkut 14.315 ekor benih lobster ke gudang tersebut menggunakan mobil. Kelima tersangka itu yakni Juliadi (34), Joni Arifin (25) Irpan Irawan (22), Topan (18), dan Tumin (21). “Tim melakukan penggerebekan terhadap kendaraan roda 4 tersebut dan ditemukan benih lobster yang sudah dalam keadaan terpacking siap kirim,” ungkap Parlindungan.

Seorang tersangka lainnya, Henry Gunawan (45) yang merupakan pengawas gudang juga berhasil ditangkap. Secara keseluruhan polisi menyita 57.208 ekor benih lobster jenis Pasir dan jenis Mutiara 203 ekor. “Nilai sumber daya ikan yang berhasil diselamatkan senilai lebih Rp8,5 miliar,” ujarnya.

Polisi masih menyelidiki ke mana saja benih lobster itu akan dijual. Para tersangka kini dijerat Pasal 88 Jo Pasal 16 UU RI Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1,5 miliar. (pro/red)

Tinggalkan Balasan