Diskusi Lintas Gerakan Kritisi Pemerintah, Sujadi "Gagal" Bangun Pringsewu? - Sinarlampung.com

Diskusi Lintas Gerakan Kritisi Pemerintah, Sujadi “Gagal” Bangun Pringsewu?

Spread the love

Pringsewu (SL)-Bidang Hikmah dan Advokasi Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Pringsewu, dalam rangka Diskusi Lintas Gerakan (Dilan), Peran Mahasiswa dalam menyikapi pemerintahan di Kabupaten Pringsewu, selama dua priode kepemimpinan Bupati Sudjadi. Jum’at, (2/8/2019).

Organisasi kemahasiswaan yang hadir diantaranya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Efi Hardianto, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Habib, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sidik, serta para kader dari organisasi serta Pimpinan Komisariat.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Habib di sela sela acara membahas beberapa permasalahan yang terkait dengan Pemerintahan Kabupaten Pringsewu, di antaranya kualitas pendidikan di kabupaten pringsewu, Pelayanan Dokumeen Kependudukan dan Ikon Bambu Kabupaten Pringsewu. Namun mhasiswa malu malu menyebut hasil kinerja kepemimpinan Kepala daerahnya Bupati Sujadi.

“Pendidikan adalah bagian terpenting untuk meningkatakan kualitas SDM Kabupaten Pringsewu. Pringsewu di gadang-gadang akan menjadi kota pendidikan, banyak prestasi yang di capai oleh siswa-siswi baik tingkat nasional maupun internasional. Jika melihat pendidikan tidak lepas dari sarana dan prasarana dalam sekolah sebagai penujang aktifitas kegiatan belajar mengajar (KBM),” kata Habib.

“Berkaitan dengan sarana dan prasarana tidak sedikit di sudut kabupaten pringsewu terdapat Sekolah yang membutuhkan perhatian penting dari Pemerintah Kabupaten Pringsewu oleh karena itu pemerintah daerah harus memberikan perhatian khusus bagi sekolah yang membutuhkan bantuan baik bangunan, sarana dan prasarana sekolah,” tambah Habib.

Lain halnya dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Pringsewu Efi Hardianto mengatakan Program pelayanan dokumen kependudukan di kabupaten Prigsewu cukup dikatakan baik, namun realita yang di rasakan oleh masyarakat sudut-sudut kabupaten pringsewu belum merasakan program tersebut dilihat di beberapa kasus terdekat yang terjadi di kabupaten Pringsewu yaitu alm. Tegar yang mendapat ujian sakit kelainan genetik perut tanpa dinding atau yang secara medis di kenal dengan suspect omvalocel illiaca.

Efi Hardianto menambahkan tidak lengkapnya dokumen kependudukan menyebabkan pemerintah daerah sulit dalam memberikan bantuan. “Hal itu bisa di katakan belum sadarnya masyarakat Pringsewu dalam dokumen kependudukan atau kurang maksimalnya sosialisasi dari pemerintah daerah,” kata Efi.

Oleh karena itu, Pemerintah daerah kabupaten pringsewu melalui Dinas Dukcapil harus melakukan sosialisasi secara masif sampai sudut kabupaten Pringsewu, dan upaya menyadarkan masyarakat pringsewu bahwa dokumen kependudukan itu sangat penting, atau dengan prograrn jemput bola bisa sampai ke sudut desa di Kabupaten Pringsewu.

Seperti halnya dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sidik, adanya ikon kabupaten Pringsewu terdapat fakta yang tidak selaras dengan kemegahan ikon Pringsewu yaitu Monumen tugu bambu dan pemecahan Rekor Muri Nasi Bakar Bambu pada HUT Pringsewu, dengan diraihnya rekor muri nasi bakar dalam bambu di asumsikan bahwa di pringsewu sangat mudah di temukan pohon bambu.

Namun realitanya di lapangan hanya di titik-titik tertentu saja, bahkan untuk memenuhi kebutuhan bambu, masyarakat pengrajin bambu harus mendatangkan bambu dari luar pringsewu. “Oleh karena itu dalam hal ini perlunya pemerintah daerah pringsewu untuk memberikan program kepada masyarakat untuk menanam pohon bambu atau membuka lahan untuk di jadikan pusat tanaman pohon bambu demi memenuhi kebutuhan masyarakat pengrajin bambu,” Ujarnya.

Mahasiswa lainnya, dengan gagalnya soal pendidikan, kependudukan, dan Ikon daerah yang justru punah, ini menunjukkan gagalnya dua priode kepemimpinan Bupati Sujadi. “Kepala daerah, Bupati Sudjadi gagal membangun Pringsewu,” katanya. (Wagiman)

Tinggalkan Balasan