Dirkrimum Polda Lampung Pastikan Premanisme Debt Collector Bisa Dipidana - Sinarlampung.com

Dirkrimum Polda Lampung Pastikan Premanisme Debt Collector Bisa Dipidana

Spread the love

Bandar Lampung (SL)-Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Lampung, Kombes Pol M. Barly Ramadhani, memastikan bahwa orang suruhan perusahaan pembiayaan bisa dikenai hukuman pidana bila merampas secara paksa kendaraan dari debitur yang pembayaran kreditnya macet.

Baca : Kapolri Perintahkan Tangkap Preman Debt Collector Resahkan Masyarakat

Baca : Maraknya Preman Berkedok Debt Colector Kapolri Perintahkan Tangkap

Barly menegaskan, juru tagih atau debt collector tidak boleh menarik paksa kendaraan, apalagi dengan melibatkan aparat keamanan. “Kalau ada orang yang meminta kendaraan dengan paksa dapat dikenakan pidana Pasal 365 KUHP,” kata Barly, Sabtu (9/11/2019), menanggapi aksi debt collector nyaris tarik motor ojol. “Kalau pembeli tidak membayar dalam tiga bulan, maka prosedurnya harus dipanggil dan membayar tunggakan, bukan menyita kendaraan, apalagi dengan cara merampas di jalan,” jelasnya.

Dia mengatakan, dalam perjanjian kendaraan secara kredit, bila ada wanprestasi (ingkar) dari konsumen, harus menggunakan penyelesaian dengan Undang-Undang No.42 tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, bukan dengan pemaksaan atau perampasan. “Jadi saya mengimbau kepada masyarakat, jika ada hal seperti itu, merampas kendaraan ditengah jalan atau di mana saja, segera laporkan ke kami supaya kami tindak lanjuti,” imbaunya.

Sebelumnya Subbdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Lampung menangkap tiga orang debt collector, yakni AM, warga Kampung Sawah, MA warga Tanjungseneng, dan ID warga Pesawaran. Ketiganya beraksi dengan rekannya berinisal Z, pada Senin (23/7/2019) di Jalan Teuku Umar, tepatnya di dekat Taman Makam Pahlawan.

Saat itu, pemilik kendaraan menunggak dua bulan bernama Yopi di hadang di lokasi kejadian. Caranya dengan memepetkan mobil, mengetuk kaca dan melakukan intimidasi, serta merampas kunci mobil korban. Lalu korban dibawa ke kantor perusahaan pembiayaan di daerah Telukbetung dan diminta membayar tunggakan dua bulan, beserta denda Rp5 juta. Korban pun dikabarkan baru bisa menyanggupi pembayaran satu bulan terlebih dahulu, namun pihak leasing menolak.

Ketika korban keluar, mobilnya sudah tidak ada lagi di parkiran. Karenanya, ia melaporkan kejadian tersebut ke Mapolda Lampung. “Dari hasil penyelidikan dan penyidikan diketahui dalam menarik mobil, ketiganya tidak sesuai standar operasional prosedur, menyalahi undang-undang. Pelaku ditangkap di sebuah rumah makan di daerah Telukbetung Selatan pada Senin (29/7/2019) Pola-pola intimidasi tak dibenarkan dan kita dalami ternyata ada unsur perampasan,” kata Barly, Selasa (30/7/2019).

Selain itu, dari para pelaku ditemukan senjata tajam dan air softgun yang diduga kerap digunakan pelaku untuk mengintimidasi korban yang kendaraannya hendak ditarik. “Ada kita temukan benda-benda tertentu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Deni warga Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung kaget bukan main. Pria berusia 30 tahun yang punya pekerjaan sebagai driver ojek online (ojol) ini disambangi enam orang pria berbadan besar di Jalan Dr Harun 2, Kelurahan Tanjungkarang Timur, Selasa (5/11/2019) lalu.

Waktu itu sekitar pukul 16.00 WIB. Ia berada di lokasi itu karena baru saja mengantar penumpangnya. Enam orang itu mengaku-ngaku sebagai debt collector. Kepada Deni, mereka minta untuk ikut ke kantor salah satu leasing motor di Kota Bandar Lampung. “Mereka sempat menunjukkan sejumlah data tentang kendaraan. Dan data itu memang sesuai dengan motor saya. Mereka minta saya untuk ikut ke kantornya. Katanya saya menunggak,” kenang Deni Sabtu (9/11/2019).

Mendengar keterangan orang yang tidak dikenalinya itu, Deni berang. Ia merasa dipermainkan. “Darimana saya nunggak? Motor ini saya beli lunas kok. BPKB aja ada,” ucap Deni saat berdebat dengan enam orang itu.

Mendengar ucapan Deni itu, keenam pria tersebut mengurungkan niatnya. Deni menduga keenam pria berbadan besar itu ingin merampas kendaraannya. Dengan adanya kejadian ini, Deni berharap pihak kepolisian atau aparat penegak hukum lainnya melakukan pemantauan terhadap kelompok-kelompok orang yang ingin melakukan tindakan kriminal dengan modus mengaku sebagai debt collector. (red)

Tinggalkan Balasan