Dirjen Konsevasi SDA dan Ekosistem Izinkan Warga Kelola Kawasan TNBBS Lampung Barat - Sinarlampung.com

Dirjen Konsevasi SDA dan Ekosistem Izinkan Warga Kelola Kawasan TNBBS Lampung Barat

Spread the love

Lampung Barat (SL)-Masyarakat Kabupaten Lampung Barat (Lambar), yang saat ini menggantungkan hidup dari hasil perkebunan di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), bisa menarik nafas lega. Pasalnya Pemerintah Daerah bekerjasama dengan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem menerapkan terobosan baru agar kawasan TNBBS yang sudah dijadikan sebagai lahan perkebunan oleh warga, namun kelestarian hutan tetap dapat terpelihara melalui program Kemitraan Konservasi.

Melalui program Kemitraan Konservasi ini, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, memberikan izin atas pengelolaan lahan bagi masyarakat yang berkebun di kawasan TNBBS. Setidaknya terdapat 21 ribu hektar kawasan TNBBS yang sudah mendapatkan izin pengelolaan selama lima tahun.  Puluhan ribu hektar yang sudah diizinkan dikelola oleh masyarakat tersebut diantaranya terletak di Kecamatan Lumbok Seminung, Sekincau, Suoh, dan Way Tenong.

Kepastian itu sesuai penandatanganan kesepakatan Direktur jendral konservasi sumber daya alam dan ekosistem dengan Bupati Lampung barat, pada Peringatan hari lingkungan hidup “Komitmen konservasi untuk kesejahteraan rakyat” dilaksanakan di Kebun Raya Liwa, Rabu (10/7),  dibuka langsung oleh Bupati Lampung Barat H. Parosil Mabsus.

Hadir Dirjen konservasi sumber daya alam dan ekosistem Ir. Wiranto MSC, Dirjen pembangunan daerah tertinggal PDTT Kasubdit Lingkungan hidup dokter hewan frelinggo Kasubino SH,. MH , IPB Prof.Dr. Rizaldi boer, Tenaga ahli Gubernur Provinsi Lampung, Dandim 0422 Lambar Letkol kav Adri Nurcahyo, Wakil Bupati Drs. H. Mad hasnurin, Sekda Lambar Akmal Abd Nasir, SH, Kepala TNWK, Kepala TNBBS, Kepala BKSDA Bengkulu Lampung, NGO dan LSM serta masyarakat.

Bupati menyampaikan konservasi merupakan program Pemkab Lambar, “Terkait hal tersebut manusia mempunyai hak untuk memanfaatkan hutan tetapi bukan untuk merusak hutan, hutan dapat dipakai untuk mensejahterakan masyarakat sehingga harus kita jaga karena hutan harus lestari tetapi masyarakat sejahtera, selain itu implementasi konservasi untuk kesejahteraan petani,” ujarnya.

Kemudian, seiring dinamika pemahaman dan pelaksanaan upaya konservasi maka Lambar mempunyai potensi yang sangat besar tehadap pemanfaatan pengelolaan hutan, beserta kendala-kendala yang harus dipecahkan. potensi tersebut yang dapat dikembangkan di Lambar antara lain pola kemitraan konservasi, dengan menerapkan sepuluh cara baru kelola kawasan konservasi, dengan melibatkan masyarakat dan pengelolaan panas bumi yang saat ini berada pada zone rehabilitasi sehingga belum dapat dieskploitasi.

Dalam laporannya, Kepala Balitbang Tri Umaryani menyatakan tujuan lokakarya ini menghasilkan rumusan konsep pengembangan, menghasilkan rumusan dan rekomendasi road map, mengetahui potensi dan peluang REDD, menyepakati REDD, mendorong disepakati dan ditetapkannya areal FREL.

“Mengidentifikasi potensi dan peluang jasa lingkungan, mengimplementasi mekanisme insentif dan disinsentif, mengidentifikasi para pihak dan peranannya dalam mewujudkan kabupaten konservasi, serta menghasilkan kesepakatan bersama antar pemangku kepentingan,” katanya.

Kemudian, hasil Lokakarya hutan dan SDA yang ada di Lambar merupakan anugrah tuhan YME, keberadaan nya merupakan tanggung jawab kita dihadapan tuhan, Bersepakat dan bersedia bekerjasama dalam pemanfaatan hutan. Membangun kemitraan konservasi yang sehat, Bermufakat memperkuat Lambar sebagai kabupaten konservasi.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno, saat menjadi pembicara pada kegiatan Lokakarya Konservasi dan Peringatan Hari Lingkungan Hidup, di Kebun Raya Liwa, mengatakan, tentunya harus ada konsekuensi dari adanya program kemitraan tersebut.

Masyarakat sebagai penerima manfaat dari hutan tersebut, harus memiliki komitmen yang tinggi untuk menjaga hutan. Komitment tersebut harus ditunjukkan dengan kegiatan penanaman tanaman-tanaman yang dapat mengembalikan fungsi hutan.“Wajib juga turut menjaga satwa liar yang ada di dalam kawasan TNBBS,” tutur Wiratno dihadapan ribuan masyarakat yang berkebun di kawasan TNBBS.

Dikatakannya lebih lanjut, pihaknya tidak ingin melihat praktik-praktik pemasangan perangkap-perangkap yang dapat membahayakan bukan saja bagi manusia, melainkan juga satwa yang ada di TNBBS. “Satwa itu diciptakan tuhan tentu ada juga manfaatnya. Jangan sampai seperti kejadian kemarin, ada harimau yang terkena jerat masyarakat dan kakinya terpaksa dipotong karena sudah membusuk,” tutur Wiratno.

Menurut dia, pemerintah melalui Dirjen Konservasi SDA dan Ekosistem akan terus memberikan izin bagi masyarakat yang sudah terlanjur berkebun di kawasan TNBBS dengan kriteria-kriteria tertentu. Sangat mungkin izin pemanfaatan lahan akan diperpanjang jika masyarakat dengan patuh mengikuti persyaratan yang sudah ditetapkan pada program kemitraan konservasi.

Lebih lanjut Wiratno berharap, agar pemanfaatan kawasan tersebut juga lebih diarahkan pada sertor pariwisata. Insinyur asal Tulung Agung tersebut mencontohkan ada dua desa yang memanfaatkan lokasi wisata di kawasan Hutan TNBBS dan saat ini mendapatkan penghasilan sekitar 1o milyar lebih setiap tahunnya. Hal tersebut menurut dia, dapat juga dilaksanakan di Lampung Barat, terlebih Lampung barat merupakan daerah yang sangat kaya akan potensi wisata, mulai dari air terjun, air panas, serta potensi wisata lainnya. (indrawan)

Tinggalkan Balasan