Direktur CV Tangguh Serasi Masuk Bui, Mantan Kadis PU Lamtim Alex Sandria Buron? - Sinarlampung.com

Direktur CV Tangguh Serasi Masuk Bui, Mantan Kadis PU Lamtim Alex Sandria Buron?

Spread the love

Bandar Lampung (SL)-Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung melakukan eksekusi terhadap Direktur CV Tangguh Serasi, Zulyadi, tersangka kasus korupsi pemeliharaan dan peningkatan jalan dana alokasi khusus (DAK) Dinas PU Lampung Timur tahun 2015 dan APBD dengan anggaran seluruhnya Rp2,164 miliar.

Sementaram Mantan Kepala Dinas PU Lampung Timur, Alex Sandria masuk daftar pencarian orang (DPO). Kejati Lampung berkodinasi dengan KPK untuk menangkap Alex, yang teridentifikasi masih berada di wilayah Sumatera. Sementara dua tersangka lainya PPK dan Pokja meninggal dunia, setelah menjadi tersangka.

Asisten Pidana Khusus Kejati Lampung Andi Suharlis didampingi Kasi Penyidikan Tedi Noproadi mengatakan, tersangka Zulyadi sekitar pukul 13.30 WIB telah dieksekusi ke Rutan Way Huwi. “Sudah kita eksekusi, tersangka koperatif tidak ada penangkapan, dia datang ke Kejati kemudian kita bawa ke Way Huwi,” kata Andi Suharlis, kepada wartawan, Kamis (7/11).

Mantan Jaksa KPK ini mengatakan, dalam perkara ini penyidik menetapkan empat orang tersangka. Namun dua diantaranya meninggal dunia saat
penyelidikan dilakukan, mereka PPK dan Pokja. Dan satu tersangka masih melarikan diri dan telah ditetapkan sebagai DPO pada akhir bulan lalu. “Yang ditahan hari ini merupakan pekerja dari proyek, sementara yang melarikan diri dan masuk DPO adalah mantan Kadis PU Lampung Timur atas nama Alex Sandria,” katanya.

Andi Suharlis, menegaskan pihak kejaksaan telah berkoordinasi dengan KPK untuk terus melakukan pencarian terhadap DPO Alex Sandria tersebut. “Dari hasil pelacakan sementara, keberadaan DPO masih disekitaran Pulau Sumatera,” jelasnya.

Tersangka diduga turut serta melakukan perbuatan secara melawan hukum yaitu bertentangan dengan Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah. Tersangka melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi sebesar Rp752 juta. Hal itu sesuai dengan hasil pemeriksaan investigatif dalam rangka penghitungan kerugian negara oleh BPK RI nomor 12/LHP/XXI/04/2019 tanggal 30 April 2019.

“Untuk kerugian negara ditaksir Rp752 juta, lamanya proses perkara ini dikarenakan menunggu penghitungan kerugian negara. Setelah kerugian negara keluar, kami gelar perkara pada akhir bulan lalu dan kami tetapkan sebagai tersangka empat orang,” pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan