Cagar Biosfer Cibodas

Spread the love

Sharing is caring!

Cagar Biosfer Cibodas merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama diumumkan di Indonesia pada tahun 1982. Keadaan alamnya yang khas dan unik, menjadikan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama.

Tercatat pada tahun 1819 C.G.C. Reinwardt sebagai orang yang pertama yang mendaki Gunung Gede, kemudian disusul oleh F.W. Junghuhn (1839-1861), J.E. Teysmann (1839), A.R. Wallace (1861), S.H. Koorders (1890), M. Treub (1891), W.M. van Leeuen (1911) dan C.G.G.J. van Steenis (1920-1952) membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan buku “THE MOUNTAIN FLORA OF JAVA” yang diterbitkan tahun 1972.

Buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia oleh Jenny A. Kartawinata. Dilengkapi 57 gambar berwarna menampilkan 456 spesies tumbuhan berbunga asli pegunungan jawa, yang dilukis dalam ukuran sebenarnya berdasarkan spesimen hidup oleh Amir Hamzah dan Moehamad Toha.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari ekosistem sub Montana, Montana, sub alphin, danau, rawa dan savana. Ekosistem sub montana dicirikan oleh banyaknya pohon-pohon yang besar dantinggi seperti jamuju (Podocarpus imbricata), dan puspa (Schima walichii). Sedangkan ekosistem sub alphin dicirikan oleh adanya dataran yang ditumbuhi rumput Isachne pangrangensis, bunga eidelweis (Anaphalis javanica), dan lumut merah (Spagnum gedeanum).

Satwa langka yang dapat dijumpai di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango antara lain owa (Hylobates moloch), surili (Presbytis aygula), lutung (Presbytis cristata), macan tutul (Panthera pardus), dan anjing hutan (Cuon alpinus). Taman Nasional Gunung Gede Pangrango terkenal kaya akan berbagai jenis burung, yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis yang terdapat di Pulau Jawa dapat dijumpai di taman nasional ini. Beberapa jenis diantaranya merupakan burung langka seperti elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan jenis burung hantu (Otus angelinae).

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfer dan sebagai Sister Parks berdasarkan kerjasama Indonesia-Malaysia. Sejarah dan legenda yang merupakan kepercayaan masyarakat di sekitar yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi di Gunung Gede. Masyarakat percaya bahwa roh Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi akan tetap menjaga Gunung Gede agar tidak meletus. Pada saat tertentu, banyak orang yang masuk ke goa-goa yang ada di sekitar Gunung Gede untuk semedhi/bertapa maupun melakukan upacara religius.

Peta Area Cagar Biosfer

Pengelolaan suatu Cagar Biosfer dibagi menjadi 3 zona yang saling berhubungan, yaitu :

Area inti (Core Area) adalah kawasan konservasi atau kawasan lindung dengan luas yang memadai, mempunyai perlindungan hukum jangka panjang, untuk melestarikan keanekaragaman hayati beserta ekosistemnya.

Zona penyangga (Buffer Zone) adalah wilayah yang mengelilingi atau berdampingan dengan area inti dan teridentifikasi, untuk melindungi area inti dari dampak negatif kegiatan manusia. Dimana hanya kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan tujuan konservasi yang dapat dilakukan.

Area transisi (Transition Zone) adalah wilayah terluar dan terluas yang mengelilingi atau berdampingan dengan zona penyangga. Kegiatan-kegiatan pengalolaan sumberdaya alam secara lestari dan model-model pembangunan berkelanjutan dipromosikan dan dikembangkan.

Beberapa lokasi /objek yang menarik untuk dikunjungi antara lain :

Telaga Biru. Danau kecil berukuran 5 hektar (1.575 m dpl.) yang terletak 1,5 km dari pintu masuk Cibodas. Danau ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari, karena ditutupi oleh ganggang biru.

Air terjun Cibeureum. Air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 50 meter yang terletak sekitar 2,8 km dari Cibodas paling banyak dikunjungi oleh wisatawan. Di sekitar air terjun tersebut dapat melihat sejenis lumut merah yang endemik di Jawa Barat.

Air Panas. Terletak sekitar 5,3 km atau 2 jam perjalanan dari Cibodas.

Kandang Batu dan Kandang Badak. Untuk kegiatan berkemah dan pengamatan tumbuhan/satwa. Berada pada ketinggian 2.220 m dpl dengan jarak 5,6 km/2,5 jam dan 7,8 km atau 3,5 jam perjalanan dari Cibodas.

Puncak dan Kawah Gunung Gede. Panorama berupa pemandangan matahari terbenam/terbit, hamparan kota Cianjur-Sukabumi-Bogor terlihat dengan jelas, atraksi geologi yang menarik dan pengamatan tumbuhan khas sekitar kawah. Di puncak ini terdapat tiga kawah yang masih aktif dalam satu kompleks yaitu kawah Lanang, Ratu dan Wadon. Berada pada ketinggian 2.958 m dpl dengan jarak 9,7 km atau 5 jam perjalanan dari Cibodas.
Alun-alun Suryakencana. Dataran seluas 50 hektar yang ditutupi hamparan bunga edelweiss. Berada pada ketinggian 2.750 m dpl dengan jarak 11,8 km/6 jam perjalanan dari Cibodas.

Gunung Putri dan Selabintana. Berkemah dengan kapasitas 100-150 orang.

Musim kunjungan terbaik : pada bulan Juni s/d September.

Cara pencapaian lokasi : Jakarta-Bogor-Cibodas dengan waktu sekitar 2,5 jam (± 100 km) menggunakan mobil, atau Bandung-Cipanas-Cibodas dengan waktu 2 jam (± 89 km), dan Bogor-Selabintana/Situgunung waktu 2 jam (75 km).

Diumumkan/dinyatakan : Menteri Pertanian, Tahun 1980 dengan luas 15.000 hektar.

Letak : Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi Propinsi JawaBarat.

Temperatur udara : 50 – 280 C.

Curah hujan : Rata-rata 3.600 mm/tahun.

Ketinggian tempat : 1.000 – 3.000 m dpl.

Sumber : www.mab-indonesia.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *