Bunga Bangkai dan Partai ‘Serangga’

Spread the love

Sharing is caring!

oleh : Ilwadi Perkasa

DALAM konteks Pemilu, serentak tak identik dengan gotong royong yang senantiasa mengajarkan nilai-nilai kebersamaan. Pemilu serentak (Pilpres dan Pileg) tak mengenal nilai-nilai itu.

Pemilu adalah politik, yang dalam praktiknya senantiasa berusaha mengalahkan lawan untuk selanjutnya merebut kekuasaan.

Pilpres dan Pileg serentak pada Pemilu 2019 bukan hanya pelik, tapi juga penuh jebakan oleh sebab kasak-kusuk pencapresan. Pilpres menjadi perhatian penting hingga partai-partai pun ikut larut hingga terbelah menjadi dua koalisi.

Dalam proses kasak-kusuk itu tampak ada gotong royong di sana, bahkan semua partai, kecuali Partai Demokrat, berusaha menjadi pendukung yang hebat dengan harapan kelak jika capresnya menang, bisa masuk dalam pusaran kekuasaan, paling tidak dapat jatah menteri.

Seperti Bunga Bangkai yang indah menawan dan berwarna cerah, memikat serangga untuk mendekat. Kekuasaan pun demikian, memiliki daya pikat yang hebat, hingga mengundang partai untuk datang menghampiri.

Alhasil, dalam konteks pilpres, situasi ini lebih menguntungkan bagi PDIP dan Partai Gerindra oleh sebab, dua capres yang ada adalah kader dua partai ini. Jokowi identik PDIP dan Prabowo jelas Ketum Partai Gerindra. Sedangkan partai lain adalah ‘serangga’, yang tetap harus bersusah payah memenangkan calegnya di pemilihan legislatif.

Untuk urusan pilpres, partai koalisasi tentu menampakan sikap gotong royong untuk memenangkan pasangan capres dan cawapresnya. Pada pileg, situasinya jadi berbeda, dimana partai-partai ‘serangga’ dan calegnya harus berusaha merebut kursi dengan performa sendiri-sendiri. Tak ada lagi koalisi-koalisian–partai dan caleg sibuk bersaing satu sama lain–bahkan dengan rekan caleg separtai.

Fenomena Bunga Bangkai yang indah menawan dan berwarna cerah begitu memukau, hingga menghapus semangat gotong royong, saling membantu rekan separtai dengan menggunakan pola tandem, yakni caleg DPR-RI membantu rekan separtai yang nyaleg di DPRD I atau II.

Mereka saling urun dana, berbagi macam-macam logistik dan eksis menampilkan foto bareng-bareng di kartu nama, stiker, baliho hingga contoh lembar kartu suara.

Kali ini, jangan heran, caleg harus berbagi ruang dengan Jokowi atau Prabowo. Sedangkan baliho Jokowi atau Prabowo hanya menampilkan foto capres dan cawapres dengan tampilan besar logo banteng moncong putih atau burung garuda merah lengkap dengan nomor urutnya. **

*Penulis dewan redaksi sinarlampung.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *