Bulog dalam Dilema, Antara Sukses Pengadaan dan Ketakutan Beras Busuk di Gudang - Sinarlampung.com

Bulog dalam Dilema, Antara Sukses Pengadaan dan Ketakutan Beras Busuk di Gudang

Spread the love

Oleh : Ilwadi Perkasa

PERUM Bulog kini dalam dilema, setidaknya sejak terhentinya penyaluran beras raskin. Dulu, pengadaan beras bisa dilakukan jor-joran, tapi kini harus disesuaikan dengan kemampuan menjual kembali. Intinya, kini, semua divre harus memutar otak untuk mencari jalan: taget pengadaan sukses, penyaluran lancar. Mungkinkah?

Penugasan penyerapan beras petani oleh pemerintah (Kementerian Pertanian) menjadi dilema yang membuat pusing para pejabat Bulog di daerah-daerah. Penugasan ini, mirip-mirip seperti mendesak Bulog membelanjakan anggaran pengadaannya, tanpa memikirkan nasib beras pengadaan itu nantinya.

Jika diasumsikan Perum Bulog Lampung sukses mengulang pengadaaan sampai 150 ribu ton seperti yang pernah dicapai pada 2016 lalu, hampir bisa dipastikan beras tersebut hanya menumpuk di gudang-gudang.

Penumpukan beras identik dengan risiko beras rusak, susut, dan mungkin juga hilang, meski yang terakhir jarang ada laporanya.

Beras yang menumpuk di gudang harus diurus dengan seksama yang sudah barang tentu menimbulkan biaya, seperti biaya fumigasi yang harus dilakukan berkala agar beras tak diserang kutu maupun rayap. Dan jika harus menumpuk lama, dan fumigasi terus-terusan, maka tunggulah kehancuran: beras rusak (rasa dan kualitas menurun) serta penyusutan menjadi sulit dikendalikan.

Sebagaimana diketahui, Perum Bulog ditugaskan Kementerian Pertanian untuk menyerap setidaknya 10 persen atau sekitar 1,4 juta ton beras di awal 2019 akibat adanya klaim data bahwa potensi produksi beras per Januari hingga Maret mencapai 14,2 juta ton. Secara rinci, produksi pada Januari diklaim sebesar 2,4 juta ton, Februari 4,5 juta ton dan Maret 7,3 juta ton.

Untuk periode Januari hingga April, Bulog hanya mendapatkan penugasan penyaluran bansos rastra sebesar 213 ribu ton. Padahal, ketika program tersebut masih menjadi pilihan utama, distribusi tiap bulan bisa mencapai 250 ribu ton atau sekitar 3 juta ton per tahun.

Angka-angka itu, jelas membuat Bulog ‘cieng’ sebab saat ini sulit bagi Bulog melakukan penyaluran, terutama disebabkan kebijakan pengalihan sebagian besar bantuan sosial beras sejahtera (bansos rastra) menjadi bantuan pangan nontunai (BPNT).

Dulu, sebagai lembaga yang dipercaya sebagai penyangga stok nasional, Bulog memang jagonya. Tetapi, soal kemampuan menjual kembali, rasanya sulit untuk diandalkan. Buktinya, beras renceng kemasan 200 gram yang diluncurkan untuk menjawab tantangan tersebut, tak jelas lagi kabarnya.

Program BNPT pun tak membuat Bulog nyaman. Sebab dalam pengoperasiannya, pemerintah tidak menugaskan Bulog sebagai penyuplai beras kepada warung-warung, melainkan BPNT yang ditunjuk sebagai penyalur. Dengan begitu, Bulog kehilangan banyak pasar sehingga stok yang ada di gudang tidak tersalur dengan lancar.

Di tengah dilema ini, muncul gagasan untuk mengekspor beras ke luar negeri, meski kita tahu, harga di dalam negeri relatif tinggi dibanding negara produsen lainnya.

Ekspor paling mungkin dilakukan jika Pak Buwas (Dirut Bulog) terbang ke banyak negeri, menawarkan mutu yang paling sesuai untuk bisa ditransaksikan.

Sungguh, Bulog kini dalam dilema yang memusingkan kepala para pejabatnya. (*)

Penulis adalah wartawan senior bidang ekonomi

Tinggalkan Balasan