Bantuan Bedah Rumah Dinas Perkim Tubaba Diduga "Disunat" ? - Sinarlampung.com

Bantuan Bedah Rumah Dinas Perkim Tubaba Diduga “Disunat” ?

Spread the love

Tulang Bawang Barat (SL)-Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), disinyalir menjadi ajang bisnis. Harga satuan material yang diterima oleh penerima BSPS tidak sesuai seperti. Besi ukuran 10 biasa Rp90 ribu, semen Rp65.000 per-sak. Kemudian batu spelit diduga batu asalan, dan bata bolong juga mencapai harga Rp800 rupiah perbuah.

Baca: Penerima Bantuan Bedah Rumah BSPS Dipotong Rp1 Juta Perumah Dan Material Dikurangi?

Dikonfirmasi hal itu, Kabid Pembangunan, Pemeliharaan dan Pengelola kawasan Pemukiman, Dinas Perkim Tulang Bawang Baratm Guntur Pandra Jaya, mengatakan bahwa terkait harga satuan material itu merupakan kesepakatan penerima BSPS dengan pihak toko.

“Kalau kita enggak ikut campur, karena itu duit-duit mereka masuk ke rekening mereka, itukan ada kelompoknya, dan kelompok itu lah yang membelanjakannya dan itu kesepakatan mereka. Kita ini hanya sebagai fasilitasi karena kebetulan Dinas Perumahan itu ada di Tubaba, dan kita tim tehnisnya sesuai dengan peraturan dari kementerian,” jelas Guntur Kamis (31/10/2019).

Menurut Guntur, untuk masalah pencairan dana itu pihak Toko langsung yang mencairkan. Untuk pencairannya juga harus ada surat kuasa dari Bank sekalian surat kuasa untuk penarikan uang belanja. “Jadi duit itu harus langsung masuk ke toko,enggak bisa kemana-kemana, apalagi ini kegiatan pusat mereka yang buat kesepakatan dengan Bank BRI. Kita ini cuma tempat, dan yang mencairkan itu toko tapi ada yang memfasilitasi yaitu pihak dari pusat, kalau untuk tim tekhnis sendiri itu banyak kami selaku Dinas Perkimta, kemudian ada Camat serta Kepala Tiyuh sendiri,” ujarnya.

Wahidin Sebagai Tokoh pendiri LSM Forum Komunikasi Pemberantas Korupsi (FKPK) Tubaba, mempertanyakan proses pencairan dan material yang digunakan dalam program Bantuan Stimual Perumahan Swadaya (BSPS), atau bedah rumah tersebut, “Kenapa uangnya yang narik dari rekening penerima adalah pihak toko kok?, bukan si Penerima Bantuan, dan kok bisa pihak Bank mencairkannya, ada apa ini,” kata Wahidin. (kjf/red)

Tinggalkan Balasan