Akhir Pekan Ini, AJI Bandar Lampung Umumkan Penghargaan Saidatul Fitriah 2019 – Sinarlampung.com

Akhir Pekan Ini, AJI Bandar Lampung Umumkan Penghargaan Saidatul Fitriah 2019

Spread the love

Bandar Lampung (SL)-Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandar Lampung akan mengumumkan Penghargaan Saidatul Fitriah pada puncak acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 AJI. Agenda tahunan ini dihelat di lantai dua Gedung Pascasarjana Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, Bandar Lampung, Sabtu mendatang, 24 Agustus 2019, pukul 15.00 WIB.

Ketua Pelaksana Faiza Ukhti Anisa mengatakan, AJI Bandar Lampung mengadakan serangkaian kegiatan HUT hingga acara puncak pada akhir pekan ini. Kegiatan dimaksud antara lain pelatihan cek fakta bagi jurnalis, cerdas cermat jurnalistik khusus pers kampus, serta Penghargaan Saidatul Fitriah dan Kamaroeddin.

“Khusus Saidatul Fitriah Award, panitia menerima sebanyak 15 karya jurnalistik dari berbagai media massa di Lampung. Topik liputan beragam mulai dari seputar lingkungan, pendidikan, dan kesehatan. Tahun ini, terdapat jurnalis televisi yang turut mengirimkan karya,” kata Faiza, Rabu, 21/8/2019.

Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho menambahkan, Penghargaan Saidatul Fitriah sudah berlangsung sejak 2008. AJI Bandar Lampung konsisten memberikan penghargaan bidang jurnalisme itu tiap tahun. Salah satu tujuannya, merangsang para jurnalis melahirkan karya jurnalistik berkualitas.

Saidatul Fitriah adalah pewarta foto Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung (Unila). Ia meninggal dunia pada 3 Oktober 1999. Mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini terluka berat di bagian kepala saat meliput bentrokan aparat dengan ribuan mahasiswa, yang dikenal sebagai peristiwa ‘UBL Berdarah’ atau ‘Tragedi UBL’.

Sedangkan Kamaroeddin adalah pelopor pers di Lampung. Kamaroeddin gelar Soetan Ratoe Agoeng Sampoernadjaja merupakan pendiri Fajar Soematra pada 1930-an dan Lampoeng Review (1933-1937). Rekan Proklamator RI Soekarno di Penjara Sukamiskin, Bandung, pada 1927, itu masuk penjara akibat tulisannya mengenai keinginan masyarakat Lampung memisahkan diri dari Sumatra Selatan di Harian Indonesia Raya pada 1957. (rls/*)

Tinggalkan Balasan